Ekonomi Lesu Tidak Pengaruhi Pembelian Rumah di Malang Raya

Di Tahun 2024, DPUPRPKP Kota Malang Fokus Percepatan Penyerahan PSU
Ilustrasi perumahan di Malang (blok-a.com/Ovan Zaenuddin)

Kota Malang, blok-a.com – Pasar properti di Malang Raya sepanjang 2025 terpantau relatif stabil. Meskipun daya serap rumah dengan harga di atas Rp800 juta mulai melambat, segmen hunian dengan harga maksimal Rp600 juta masih menjadi favorit masyarakat di Malang.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Malang Raya, Doni Ganatha, menyebut tren penjualan unit rumah tahun ini tidak banyak mengalami perubahan dibanding 2024. Baik dari sisi penawaran maupun permintaan, grafiknya terbilang konstan.

“Kalau sekarang cenderung stabil, nggak turun-turun banget, nggak naik juga. Mulai awal tahun belum ada penurunan signifikan,” jelas Doni, Selasa (9/9/2025).

Ia menambahkan, ekonomi yang dinilai lesu saat ini tidak mempengaruhi daya beli masyarakat untuk membeli unit rumah. Hal itu dipengaruhi oleh pilihan masyarakat yang menjadikan rumah sebagai salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

“itu tergantung dari kita pelakunya kalau mengikuti mindset yang tidak baik-baik saya pikir juga tidak akan baik-baik saja. Cuma kenyataan di pasar sekarang lagi ada pameran properti juga responnya dari masyarakat lumayan bagus,” tuturnya.

Doni menerangkan, salah satu persoalan yang harus di hadapi khususnya di Kota Malang yakni keterbatasan lahan. Menurutnya, di Kota Malang keterbatasan lahan membuat harga rumah cenderung tinggi, sementara daya serap lebih kuat di kelas menengah. “Rumah dengan harga di atas Rp1 miliar lebih banyak dibidik untuk investasi, sedangkan pasar lokal lebih dominan memilih hunian di bawah Rp600 juta,” terangnya.

Berbeda dengan Kota Malang, wilayah Kabupaten Malang dan Kota Batu masih memiliki ketersediaan tanah yang luas. Pasar di dua daerah ini justru ditopang oleh pembeli dari luar kota, terutama yang mencari hunian bernuansa wisata atau investasi jangka panjang.

“Kalau di Kabupaten Malang terutama arah Batu, pasarnya masih lumayan luas. Unit dengan harga hampir Rp2 miliar pun masih ada yang menyerap karena banyak pembeli dari luar kota,” kata Doni.

Fenomena lain yang cukup menonjol adalah tren rumah kos (rukos) di Kota Malang, terutama di kawasan sekitar perguruan tinggi. Lokasi-lokasi seperti sekitar Jalan Soekarno-Hatta, Borobudur, hingga Tunggu Wulung masih cukup diminati karena permintaan hunian mahasiswa terus tumbuh.

“Yang lagi ngetren saat ini adalah rumah kos, tapi di daerah-daerah tertentu saja. Lokasi-lokasi yang dekat kampus menjadi pilihan para investor untuk dijadikan rukos ini,” bebernya.

Dengan kondisi tersebut, pasar properti di Malang Raya diprediksi tetap stabil hingga akhir 2025, meskipun tanpa tambahan destinasi atau pemicu ekonomi baru. Stabilitas ini sekaligus menegaskan bahwa rumah hunian masih menjadi kebutuhan utama, sementara investasi properti tetap menarik di kawasan sekitar wisata dan pendidikan. (yog)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com