Teruna Cipta Karsa, Komunitas Berkain Ajak Millenials Kota Malang Lestarikan Wastra di Bumi Arema

Kota Malang, blok-A.com – Sebuah gebrakan baru dari pemuda-pemudi di Kota Malang, Teruna Cipta Karsa hadir sebagai komunitas berkain untuk melestarikan wastra di bumi arema.

Berangkat dari keresahannya, Founder Teruna Cipta Karsa, Riko (25) menceritakan ide cermerlangnya, untuk menaungi para pemuda-pemudi di Kota Malang yang suka berkain, untuk mengekspresikan wastra dari berbagai daerah asalnya.

“Buah pikirnya itu di Desember 2021, saya terinspirasi dari temen-temen remaja nusantara (jakarta) yang juga merupakan komunitas berkain di ibu kota. Saya kepikiran untuk membuat juga di Kota Malang,” ujarnya.

Riko menjelaskan bahwa di Kota Malang sendiri, belum ada yang menciptakan komunitas berkain. Dan kebanyakan, orang-orang lebih banyak menggunakan kain saat acara-acara formal saja.

“Untuk di malang sendiri belum ada, dan biasanya kan kalau pakai kain kaya gitu diacara formal- formal juga biasanya dijadiin baju,” ujar Riko.

“Kita pengen ngebranding kalo kain itu bisa loh dipakai untuk sehari-hari. Pada 2018, dulu juga ada pemuda-pemudi yang pakai kain, tapin belum ada naungan dan komunitasnya,” ucapnya.

“Nah tercetus dari ide itu, aku pengen ciptain wadah atau komunitas buat penggemar berkain. Mulailah aku ajak temen2 untuk gabung, akhirnya jadi Teruna cipta karsa.

Teruna Cipta Karsa diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2022. Namun, mulainya sudah dari akhir tahun 2021. Riko menceritakan caranya untuk menggaet temen-temennya, ikut untuk berkain bersama dengan mengenal komunitas yang dibuatnya tersebut.

“Pertama aku cari dulu orang-orang yang mau diajak berkain, mungkin ada beberapa orang yang sudah pakai, tapi ga setiap hari. Ada juga yang malu,” ujarnya.

“Sampai suatu saat, kami sempet bikin event yang berkolaborasi dengan media di salah satu coffeeshop Malang. Alhamdulillah dapat exposure dari sana, mulai dari followers, sampai ada yang tanya jual kain atau tidak, antusiasnya bagus,” imbuhnya.

Sampai saat ini, Komunitas Teruna Cipta Karsa memiliki 4 orang pengurus dan 15 anggota lainnya. Riko menuturkan bahwa berkain itu tidak harus mahal, cuma membutuhkan puluhan ribu saja dan niat untuk berkain.

“Saya masih punya 7 koleksi kain. Yang aku pentingkan disini adalah niat untuk berkain dulu. Harga kain standart kisaran harga 70rb -150rb saja. Beda memang dengan kain tenun ya, bisa diangka 500rb – 1.5 juta,” ujar Riko.

Ia juga memberikan sedikit tips untuk para pemuda yang ingin memakai kain. Teknik nya pun bermacam macam, ada yang lipat hingaa tali.

“Paling aman itu 1.5 meter – 2meter, tergantung postur tubuh ya. Cara memakai nya sendiri banyak. Ada yang teknik lipat, tali, ada juga yang selendang. Aku belajar dari temen temen, jadi paling baik itu di lipat ke bawah ya, kaya sarung, kalo tali itu mudah untuk merusak kain itu sendiri,” ujar Riko.

Dari gerakan yang dibuatnya, Riko lebih banyak mendapatkan respon positif dari temen-temannya, untuk menggunakan kain sebagai kesehariannya. Ia berharap kedepannya bisa lebih menggaet orang untuk cinta dalam berkain.

“Alhamdulillah respon nya banyak yang positif dan tidak menutup kemungkinan juga ada yang kontra untuk berkain seperti ini. Saya tegaskan bahwa berkain itu ga tiap hari kok, anak-anak dari Teruna Cipta Karsa juga sesuai moodnya untuk berkain,” ujarnya.

“Semoga kedepannya bisa lebih ramai lagi anggotanya. Dan bisa realisasikan event di bulan oktober saat Hari Batik Nasional,” tutup Riko. (mg1/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com