Mengenang Perjuangan Kartini Memajukan Perempuan Pribumi di The Legend Star

Kartini
Zona Kartini di The Legend Star. Foto: JTP

KOTA BATU – Selain patung lilin, The Legend Star di Jatim Park 3 juga punya banyak spot apik untuk mengenang para tokoh-tokoh dunia. Salah satu tokoh tersebut adalah ibu kita Kartini.

Raden Adjeng Kartini yang sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi.

Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi Bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Kartini dapat berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda.

Dari situ, timbul keinginannya untuk memajukan keberadaan perempuan pribumi. Ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Pada surat-surat Kartini, tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa.

Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Oleh orangtuanya, Kartini dijodohkan dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903.

Suaminya mengerti keinginan Kartini dan memberinya kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah Timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Di zona The Legend Star, tribut untuk perjuangan Kartini tergambarkan dari desain areanya yang dibuat dengan ciri khas pedesaan yang dikombinasikan dengan priyayi. Nuansanya jadul dan tersedia juga properti seperti baju Jawa dan kebaya.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com