Lebih Hemat dan Praktis, Kebijakan Satu Tiket Watu Ulo–Papuma Banjir Pujian Wisatawan

Keindahan Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma (Pasir Putih Malikan) di Jember (foto: ist)
Keindahan Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma (Pasir Putih Malikan) di Jember (foto: ist)

Jember, Blok-a.com – Pemkab Jember memberlakukan sistem tiket terpadu untuk Pantai Watu Ulo dan Pantai Tanjung Papuma sejak 2 Januari 2026. Dengan membayar Rp12.500, wisatawan dapat mengakses kedua destinasi pantai unggulan Kabupaten Jember sekaligus tanpa perlu membayar dua kali.

Kebijakan ini merupakan realisasi nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Bupati Jember Muhammad Fawait bersama Perum Perhutani dan PT Palawi Risorsis pada 19 Desember 2025. Sebelumnya, tiket masuk Papuma dibanderol Rp25.000 dan tiket masuk Pantai Watu Ulo Rp10.000 per orang.

Bagi para wisatawan, kemudahan dan kenyamanan akses destinasi merupakan salah satu pertimbangan utama saat liburan. Dengan skema satu tiket yang terbaru dibanderol seharga Rp12.500, tentu lebih hemat sekaligus memangkas antrean kendaraan di perbatasan kedua kawasan pantai. Alhasil, waktu wisatawan untuk menikmati liburan pun lebih efisien.

Tentang Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma

Kedua pantai yang berdampingan di pesisir selatan Jember ini memiliki karakteristik berbeda yang saling melengkapi. Watu Ulo terkenal dengan legenda batu karang panjangnya, sedang Papuma dengan keindahan hamparan pasir putih bersih berlatar bukit hijau.

Pantai Watu Ulo

Pantai Watu Ulo terletak di Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jember. Nama “Watu Ulo” berasal dari bahasa Jawa, yakni “watu” (batu) dan “ulo” (ular). Ini merujuk pada formasi batu karang alami yang menjorok ke laut. Dengan panjang sekitar 110 meter dan lebar 4 meter, serta bertekstur menyerupai sisik ular raksasa.

Legenda populer di balik formasi batu ini berkisah tentang Nogo Rojo, seekor naga jahat penguasa pantai selatan yang dikalahkan oleh ksatria Joko Mursodo. Konon, tubuh naga tersebut terbelah tiga. Kepalanya terlempar ke Pantai Grajagan di Banyuwangi, badannya membatu di Watu Ulo, dan ekornya sampai di Pacitan.

Setiap tahun, masyarakat setempat menggelar tradisi Petik Laut pada 7 Syawal sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada laut. Ini menjadikan Watu Ulo bukan sekadar destinasi wisata alam, tetapi juga ruang pelestarian budaya pesisir Jember.

Pantai Papuma

Sementara di dekat Watu Ulo, Pantai Papuma berada di wilayah administrasi Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Nama Papuma sejatinya merupakan singkatan dari “Pasir Putih Malikan”, nama yang diberikan oleh Perhutani sebagai pengelola resmi kawasan.

Kombinasi hamparan pasir putih dan gugusan batu karang besar di tepi laut, menjadi daya tarik utama kawasan ini. Batu-batu karang di Pantai Papuma diberi nama dari tokoh pewayangan. Di antaranya Pulau Batara Guru, Pulau Kresna, dan Pulau Narada.

Jika dilihat dari atas bukit, air Pantai Papuma tampak berwarna hijau seperti zamrud akibat pantulan alga laut. Menjelang senja, Pantai Papuma dikenal sebagai salah satu spot matahari terbenam terbaik di pesisir selatan Jawa Timur.

Kombinasi dua pantai ini memberikan pengalaman visual yang beragam, terutama menjelang senja. Wisatawan dapat berpindah dari Watu Ulo ke Papuma untuk mendapatkan spot terbaik tanpa perlu tiket tambahan.

Momentum libur panjang turut mendorong lonjakan kunjungan dari luar daerah. Salah satu wisatawan asal Lumajang mengaku terkesan dengan konsep baru ini. Ia menilai pengalaman berwisata menjadi lebih hemat dan praktis, tanpa perlu lagi membeli tiket di dua loket berbeda. (rio/ova)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com