Kabupaten Malang, blok-a.com – Pemkab Malang berupaya meningkatkan kompetensi para petani. Kali ini para petani di Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang diajari untuk mengatasi hama dan penyakit tanaman.
Kegiatan itu bernama Sekolah Lapang (SL) yang merupakan program dengan memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Setidaknya 32 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Rejeki 1 mengikuti Sekolah Lapang.
Para petani yang mulai belajar memananam tembakau itu diajari untuk menangani hama.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Avicenna M Saniputera menjelaskan, program SL ini mampu menjadi momentum untuk menyejahterakan para petani khususnya petani tembakau.
“Dengan adanya pengendalian hama yang baik, produksi tanaman tembakau ini bisa sesuai harapan yaitu 1 ton per hektar,” kata dia.
Nantinya, para petani bakal ada 10 kali pertemuan untuk membahas cara menangani hama dan penyakit pada tanaman khususnya tembakau. Ada 3 orang pemandu lapang yabg siap diajak berdisuksi untuk menemukan solusi pengendalian hama dan penyakit.
“Nanti itu dicari solusi bareng, pengendaliannya seperti apa. Karena tembakau ini tanaman yang agak perlu ketelitian. Jadi kalau sekali saja kena virus pasti gampang layu, jadi mempengaruhi produksi,” kata dia.
Penanaman tembakau sendiri menjadi primadona petani di Kabupaten Malang saat ini. Terbukti dari data luas hektar penanaman tembaku yang meningkat dari tahun ke tahun.
Tahun 2024 lalu ada 800 hektar kurang lebih yang ditanami tembakau oleh petani di Kabupaten Malang. Hasilnya 7700 ton daun tembakau basah berhasil dipanen.
“Di 2025 ini insyallah 10 ribu ton dan rencana tanamannya 900 hektar-an. Semakin meningkat dari tahun ke tahun,” tambahnya.
Untuk itu, SL ini cukup penting bagi petani di Kabupaten Malang untuk mengantisipasi turunnya hasil panen saat menanam tembakau.
Avicenna pun mengatakan, petani tertarik menanam tembaku karena nilai jualnya yang lebih tinggi dibanding tanaman lainnya. Tak hanya itu, saat musim kemarau seperti ini, banyak petani yang mengalihkan lahannya yang mulanya padi untuk ditanami tembakau.
“Bisa lebih menguntungkan tembakau, saat air kering tidak bisa menanam padi, mereka menanam tembakau,” kata dia.
Sementara itu, dari laporan para petani tembakau di Kecamatan Gondanglegi sendiri, kata dia, hama dan penyakit yang menjadi langganan ialah, ulat dan belalang serta penyakitnya ialah layu fusarium.
“Jadi ini nanti bareng-bareng agar petani bisa menjadi dokter dari lahannya sendiri,” tutupnya. (adv/bob)










Balas
Lihat komentar