Blitar, blok-a.com – Masyarakat petani Dusun Klakah, Desa Sidorejo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dengan cara unik. Mereka menggelar upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, sebagaimana versi asli ciptaan Wage Rudolf Supratman.
Peringatan yang dihelat, Minggu (17/8/2025) itu berbeda dengan peringatan kemerdekaan pada umumnya yang hanya menyanyikan satu stanza lagu kebangsaan tersebut.
“Berdasarkan sejarah, lagu Indonesia Raya versi tiga stanza pertama kali dikumandangkan pada Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II,” kata Suyanto, salah seorang tokoh petani setempat yang bertindak sebagai inspektur upacara.
Lebih lanjut Suyanto menyampaikan, bahwa penggunaan lagu Indonesia Raya tiga stanza merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan perjuangan para pahlawan kemerdekaan.
“Kami sebagai warga negara yang baik, tetap mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah merebut dan mempertahankan kemerdekaan, mempertahankan bangsanya,” jelasnya.
Suyanto menandaskan, tanggal 17 Agustus 1945 itu, merupakan kemerdekaan bangsa Indonesia, karena yang merdeka bangsanya. Pada tanggal itu negara belum berdiri. Dan baru pada 18 Agustus 1945 berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Makanya dalam proklamasi itu disebutkan mengenai pemindahan kekuasaan, yang artinya apa? Dari merdekanya bangsa ini, dipindah menjadi kekuasaan namanya negara,” tandas Suyanto.
Suyanto menambahkan, lagu Indonesia Raya tiga stanza merupakan karya asli WR Supratman yang kemudian dipopulerkan.
“Yang murni ciptaan WR Supratman itu adalah tiga stanza. Sampai-sampai sekarang tahun 2018 itu kan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat suatu undang-undang, dan diwajibkan untuk lagu Indonesia Raya tiga stanza ini dipakai dalam acara-acara yang penting, salah satunya adalah upacara bendera,” imbuhnya.
Namun, Suyanto menyayangkan masih banyak pihak yang belum melaksanakan hal tersebut.
“Masih banyak sekali yang belum melaksanakan itu karena apa? Saya pernah bertemu dengan salah satu pegawai pemerintah, khususnya daerah Blitar. Beliau-beliau itu tahu tentang itu, namun tidak berani untuk melakukan karena enggak ada perintah dari atasan,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah lebih memperhatikan dan melestarikan sejarah yang sebenarnya.
“Kami berharap, di hari kemerdekaan ini untuk Indonesia dan khususnya untuk warga Desa Sidorejo dan Dusun Klakah, pemerintah Indonesia bisa melaksanakan upacara yang seperti ini. Dan semoga pemerintah daerah menegakkan keadilan sesuai dengan sila kelima keadilan itu ditegakkan atau dijalankan,” pungkasnya.
Usai upacara, dilanjutkan dengan kenduri bersama yang diikuti seluruh peserta upacara.
Seluruh rangkaian kegiatan dikhiri sengan tabur bunga di lokasi pabrik perkebunan cengkeh Sengrong, untuk mengenang tragedi penembankan Sumarlin, seorang petani yang menjadi korban tragedi kekerasan tahun 2000. Aksi tabur bunga ini menjadi simbol penghormatan terhadap Sumarlin yang dianggap sebagai pahlawan petani perjuangan. (jar/bob)









