Unik! Hanya di Pasar Segoro Gresik Transaksi Jual Beli Pakai Kerang

Teks foto : Di Pasar Segoro Desa Campurejo, Panceng, Gresik alat transaksi menggunakan kerang. (blok-a.com/ivan)
Teks foto : Di Pasar Segoro Desa Campurejo, Panceng, Gresik alat transaksi menggunakan kerang. (blok-a.com/ivan)

Gresik, blok-a.com – Ada yang berbeda di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik. Warga dan komunitas anak mudanya menghadirkan suasana tempo dulu lewat sebuah gelaran budaya yang unik, namanya Pasar Segoro.

Bukan sekadar pasar biasa, Pasar Segoro ini membawa pengunjung menyelami tradisi pesisir yang kental. Kuliner tradisional, pertunjukan seni, hingga pameran instalasi yang menggambarkan kehidupan nelayan, semuanya hadir jadi satu dalam acara yang digagas Komunitas Ngayom Jagad.

Yang bikin tambah menarik, alat transaksinya bukan pakai uang seperti di pasar umumnya, tapi pakai kerang. Ya, betul. Pengunjung yang ingin jajan atau beli produk UMKM di sini, harus menukarkan uang mereka dengan kerang terlebih dahulu. Satu kerang dihargai setara dua ribu rupiah.

“Kami ingin menghidupkan lagi cara-cara tradisional dalam bertransaksi. Kerang juga kami pilih karena jadi simbol kehidupan pesisir Campurejo, tempat kami tinggal dan berkegiatan sehari-hari,” ujar Ketua Pelaksana Pasar Segoro, Khoirul Fatiqin, Jumat (4/7/2025).

Acara yang digelar di sebelah utara makam Desa Campurejo ini bukan cuma menghadirkan suasana pasar, tapi juga menyuguhkan pertunjukan seni yang memanjakan mata. Salah satu yang jadi magnet perhatian adalah kolaborasi Paguyuban Reog dari Pantura, yang membawakan atraksi khas daerah pesisir dengan gaya energik.

Di sisi lain, Pasar Segoro juga jadi ajang edukasi untuk masyarakat tentang pentingnya menjaga budaya dan lingkungan. Pasalnya, seluruh kegiatan di pasar ini bebas dari plastik sekali pakai. Semua kemasan yang digunakan ramah lingkungan.

“Kami ingin Pasar Segoro ini menjadi ruang bersama, di mana budaya lokal dirayakan, lingkungan dijaga, dan generasi muda diberi panggung untuk berkarya,” imbuh Fatiqin.

Ada tiga agenda utama dalam gelaran ini. Pertama, pasar rakyat yang menjajakan aneka kuliner khas dan produk UMKM lokal. Kedua, pertunjukan seni budaya pesisir. Dan yang ketiga, pameran instalasi seni yang menampilkan artefak, replika perahu tradisional, dan cerita-cerita visual tentang kehidupan nelayan Campurejo.

Kepala Desa Campurejo, Amudi, mengapresiasi acara yang dipelopori para pemuda di desanya. Baginya, Pasar Segoro bukan hanya mengangkat ekonomi warga, tapi juga memantik semangat anak muda dalam melestarikan budaya pesisir yang mulai terlupakan.

“Kami, pemerintah desa, sangat mendukung kegiatan seperti ini. Apalagi yang diangkat adalah kuliner lama dan kebudayaan lokal Campurejo. Ini penting untuk terus dijaga dan dikenalkan ke masyarakat luas,” kata Amudi.

Ia juga menilai, penggunaan kerang sebagai alat tukar adalah terobosan kreatif yang punya makna dalam. “Kerang itu identitas kami. Biasanya cuma jadi limbah, sekarang justru punya nilai dan fungsi baru di Pasar Segoro ini,” terangnya.

Menariknya lagi, Pasar Segoro tak berhenti di satu kesempatan. Agenda ini dirancang jadi kegiatan rutin yang bakal digelar setiap Wage dan Pon dalam penanggalan Jawa.

Harapannya, lewat Pasar Segoro, budaya lokal tetap hidup, lingkungan tetap terjaga, dan ekonomi warga Campurejo ikut berputar.

“Kalau ada kekurangan dalam pelaksanaan kali ini, insyaallah akan kami perbaiki di gelaran berikutnya,” tutup Fatiqin.(ivn/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com