Mengenal Kampung Budaya Polowijen, Kental Akan Budaya dan Sejarah Malang

Ki Demang pengelola Kampung Budaya Polowijen (Mahasiswa Magang Unitri)
Ki Demang pengelola Kampung Budaya Polowijen (Mahasiswa Magang Unitri)

Kota Malang, blok-a.comKampung Budaya Polowijen, yang berdiri pada tahun 2017, telah berusia 8 tahun dan menjadi pusat pelestarian budaya dan kesenian di kawasan tersebut.

Pendiri sekaligus Pengelola Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, beliau mengungkapkan bahwa pendirian kampung ini tidak lepas dari usaha untuk melestarikan budaya yang ada di kawasan ini.

“Sebelum berdiri, kami telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga budaya lokal, salah satunya dengan menggali potensi budaya yang ada di kampung ini,” ujarnya.

Ki Demang menjelaskan bahwa kampung ini memiliki banyak situs bersejarah, termasuk Sumur Windu Kendedes, makam Mbah Reni, dan situs Joko Lolo. Menurutnya, wilayah ini sudah menjadi tempat pemukiman sejak sekitar 1080 tahun yang lalu, berdasarkan penemuan situs Warundu Kanjuruan Peidia. “Kampung Polowijen ini merupakan salah satu daerah sima, yang menjadikan daerah ini bersejarah,” tambahnya.

Salah satu tokoh penting dalam sejarah kampung ini adalah Mbah Reni, yang dikenal sebagai pembuat Topeng Malang dan berperan besar dalam perkembangan kesenian Wayang Topeng Malang pada masa pemerintahan Bupati Malang ke IV Raden Adipati Ario Soerioadiningrat I. “Keterlibatannya dalam seni topeng Malang membuat kampung ini dikenal dengan tradisi wayang topeng,” jelas Ki Demang.

Kampung Budaya Polowijen yang saat ini sepi (Mahasiswa Magang Unitri)
Kampung Budaya Polowijen yang saat ini sepi (Mahasiswa Magang Unitri)

Kegiatan budaya di Kampung Budaya Polowijen cukup beragam, mulai dari pertunjukan Wayang Topeng, latihan tari mocopat, hingga pembuatan kerajinan tangan seperti anyaman bambu dan keraba. Kampung ini juga memiliki jadwal rutin untuk berbagai kegiatan adat, seperti pawai obor menjelang puasa dan acara mulotan menjelang lebaran.

Namun, Ki Demang juga menyebutkan bahwa pada bulan Ramadan, jumlah pengunjung relatif sedikit, karena sebagian besar lebih fokus pada kegiatan buka bersama. “Meski begitu, kami tetap mengadakan acara buka bersama dengan komunitas, seperti dengan anak yatim piatu dan masyarakat sekitar,” tambahnya.

Pada tanggal 26 April 2025 mendatang, Kampung Poloijen akan mengadakan lomba tari topeng sabrang yang melibatkan sekitar 180 anak.

“Ini adalah bentuk pelestarian kesenian topeng yang sudah menjadi tradisi di sini,” ujar Ki Demang.

Kegiatan di Kampung Polowijen berlangsung rutin setiap minggu, dengan dua hingga tiga kali kegiatan dalam seminggu, seperti workshop dan stak karya.
“Dan kami mengadakan sekitar 7 hingga 10 acara besar dalam setahun. Kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan disesuaikan dengan kalender adat setempat,” kata dia.

Penulis : Mahasiswa Magang Unitri, Yuliana Neno Dondia

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com