Malang Raya, blok-a.com – Sebuah pernyataan menyambut Hari Air Sedunia 2024 yang dibuat oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Timur (Walhi Jatim) menyebut bahwa kualitas dan kuantitas air di Jawa Timur semakin merosot, terutama di Malang Raya.
Pernyataan itu ditulis dalam sebuah artikel oleh Direktur Eksekutif Walhi Jatim Wahyu Eka Setyawan dan Staff Eksekutif Daerah Walhi Jatim Pradipta Indra Ariono, dan diterbitkan dalam BetaHita pada Jumat (22/3/2024) lalu.
Pihak Walhi Jatim yang telah dihubungi oleh Blok-a.com membenarkan isi pernyataan tersebut. Mereka menyebut, kemerosotan kualitas dan kuantitas air ini terlihat dari sungai-sungai di beberapa daerah Malang Raya yang kebanyakan sudah tercemar.
“Indikatornya adalah warna air, bau air, dan menurunnya ekosistem sungai yang ditandai dengan mulai hilangnya beberapa hewan endemic,” terang Walhi Jatim.
Menurut penelitian itu, terjadi penurunan yang signifikan dalam variasi spesies ikan di Sungai Brantas. Sejak beberapa dekade terakhir, jumlah spesies ikan asli turun drastis dari 57 menjadi hanya sekitar 12 spesies.
“Penyebab utama penurunan ini adalah pencemaran air, terutama dari industri dan rumah tangga,” jelas Walhi Jatim.
Sebagai contoh, di Kota Batu, dari 111 mata air yang ada, hampir separuhnya sudah mengalami penurunan.
Selain itu, di beberapa daerah di Kabupaten Malang, contohnya Desa Jabung di Singosari, penduduk menghadapi kekeringan meskipun terdapat sejumlah sumber mata air yang cukup berlimpah di daerah tersebut.
“Penurunan sumber mata air pada dua wilayah tersebut faktor yang cukup dominan adalah rusaknya kawasan hutan di Arjuno Welirang sebagai tangkapan dan resapan air, serta eksploitasi air yang berlebihan dari perusahaan penyedia air minum, hotel dan perumahan elit,” terang Walhi Jatim.
Salah satu contoh yang diambil oleh Walhi Jatim adalah rencana pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di beberapa sumber mata air di Kabupaten Malang, dimana airnya dialihkan untuk perumahan elit di Kota Malang.
“Hal yang sama juga terjadi untuk Sumber Pitu dan Wendit yang beberapa alirannya mengarah ke perumahan elit di Kota Malang. Bahkan di Sumber Pitu terjadi konflik antara warga Desa Duwetkrajan, Kecamatan Tumpang dengan PDAM Kota Malang pada tahun 2022,” terang Walhi Jatim.(art/lio)









