Kota Malang, blok-a.com – Lapas Kelas 1 Lowokwaru Malang membuktikan upayanya untuk mengkaryakan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Salah satu cara untuk mengkaryakan WBP Lapas Kelas 1 Lowokwaru Malang itu dengan mengajarkan mereka cara membatik.
Bahkan, beberapa WBP di Lapas Kelas 1 Lowokwaru Malang itu masuk lapas tanpa adanya skill alias mulai dari 0 dalam hal membatik. Salah satunya adalah Trianta Ulil Amri.
Sejak masuk Lapas Kelas 1 Lowokwaru Malang, Amri sapaan akrabnya mengaku resah. Mantan pekerja di sebuah perusahaan garmen itu sehari-harinya bingung dan merenung dikurung di sana.
Tak ada kegiatan lain untuk menghabiskan waktu menunggu dia bebas dari Lapas Malang itu selain, bangun, makan, hingga tidur lagi. Membosankan adalah yang ia rasakan waktu itu.
Namun hal itu berubah kala Kepala Lapas (Kalapas) Kelas 1 Lowokwaru Malang dijabat Ketut Akbar Herry Achjar. Sejak menjabat sebagai Kalapas, Akbar langsung membikin gebarakan dengan menggelar pelatihan membatik. Siapapun WBP boleh ikut.
“Saya akhirnya ikut pelatihan itu. Pelatihan membatik itu saya mulai dari 0 dan gak punya skill apapun sebelumnya,” kata Amri asal Jember itu kepada blok-a.com.
Dua minggu, ia ikut pelatihan membatik tulis dan pelatihnya sendiri memang sudah ahli yang didatangkan dari Sumenep. Waktu itu, yang terpikir oleh Amri adalah dia bersyukur bisa menghabiskan setidaknya dua minggu dengan berkegiatan.
Namun, syukurnya itu ternyata menjadi semangatnya. Dia mengikuti setiap instruksi pelatih setiap proses pembatikan ia perhatikan satu per satu dan diingatnya lalu diprakterkan langsung saat pelatihan.
“Saya yang mulai dari 0 ini akhirnya mulai bisa setidaknya mewarna batik,” kata dia.
Setelah dua minggu berjalan, Amri pun tidak menyangka bahwa pelatihan itu bakal diseriusi oleh Lapas Kelas 1 Lowokwaru Malang. Ternyata WBP yang ikut pelatihan itu dan berjumlah sekitar 20-an dijadikan satu tim produksi batik Lapas Malang.
“Terus akhirnya dijadikan tim produksi ini dan saya bagian mewarnai,” kata dia.
Sejak berjalan setidaknya beberapa minggu ini, Amri pun sepertinya mulai menemukan skill-nya untuk bertahan hidup saat keluar dari Lapas Malang nantinya. Skill itu adalah mewarnai batik. Sehari Amri bisa mewarna bat
“Ya Alhamdulillah sekarang pikiran itu gak kosong. Kalau pagi sampai sore saya mewarna batik, terus malam istirahat. Saya jadi berkegiatan di sini.” ujarnya.
Syukur Amri yang sederhana itu nampaknya tengah diseriusi oleh Kalapas Kelas 1 Lowokwaru Malang, Ketut Akbar Herry Achjar. Akbar berkomitmen menjadikan karya batik para WBP Lapas Malang itu untuk dikomersilkan secara profesional.
“Batik yang dibuat di sini kami pastikan berkualitas tapi simple karena prosesnya panjang namun kami buat desainnya simple jadi bisa dibuat untuk anak muda dalam berbagai kesempatan,” ujarnya.
Untuk menunjukan awal komitmennya, Akbar bakal membikin gallery batik karya WBP itu di luar Lapas Malang. Gallery itu akan berisi hasil karya yang bisa dilihat oleh warga masyarakat umum.
Jika tertarik, harga satu kain batik karya WBP Lapas Malang itu dibanderol Rp 700 ribu.

“Saat dijual kami membanderol harga Rp 700 ribu per kain. Saat ini ada puluhan kain yang sudah dipesan,” ujarnya.
Motif batik itu pun beragam, namun pastinya ada satu benang merah dari motif itu yakni tentang Kota Malang, seperti motif bunga. “Dam tak lupa juga desain lapas Lowokwaru Malang,” imbuhnya.
Akbar menjelaskan, dia mengkaryakan WBP ini alasannya karena ingin menghapus citra WBP yang kriminal. Dia ingin mengubah citra WBP sebagai masyarakat yang bisa diterima nantinya.
“Saya ingin memberi pesan bahwa WBP ini bisa diterima masyarakat lagi. Ya dengan ini bahwa bukti teman-teman di sini bisa berkarya kami harapannya nanti juga setelah dari sini bisa mandiri,” tutupnya. (bob)









