Ketar-ketir Perusahaan Penerbit Kota Malang Sebelum Memutuskan Go Digital

Pembeli buku digital melalui QR Code Kubuku di Pra-Grand Launching MCC, Kamis (2/3/2023) (blok-a/bob)
Pembeli buku digital melalui QR Code Kubuku di Pra-Grand Launching MCC, Kamis (2/3/2023) (blok-a/bob)

Kota Malang, blok-a.com – Nasib perusahaan penerbit di Kota Malang hampir mengalami kebangkrutan pada tahun 2020 kemarin.

Sejumlah perushaan penerbit buku di Kota Malang alami kelesuhan produksi.

Sejak adanya pandemi Covid-19 pada tahun 2020 kemarin, banyak orang yang enggan membeli buku. Beberapa pun beralih ke digital atau e-book.

Namun penerbit buku di Kota Malang enggan beralih ke digital. Mereka takut rugi.

Ketakutan itu juga dialami Gedeon Soerjo Ardi Pemilik MNC Publishing Book Kota Malang.

Pada tahun 2020 dia sudah paham bahwa beralih ke buku digital adalah pilihan yang tepat.

Sebab peralihan dari produksi buku fisik ke digital sudah marak sejak 2016. Banyak aplikasi digital yang mendigitalisasi buku.

“Aplikasi banyak yang digital itu sejak 2016. Tapi waktu itu belum,” kata dia ditemui blok-a.com di acara Pra-launching MCC, Kamis (2/3/2023).

Gedeon Soerjo Ardi Pemilik MNC Publishing Book Kota Malang (blok-a/bob)

Dari tahun sebelum Covid-19 ada 300 penulis kurang lebih yang menerbitkan buku ke MNC Publishing.

Namun saat Covid-19 melanda, ada pengurangan hampir 70 persen penulis yang menerbitkan di MNC Publishing.

“Alasannya karena ya sepi pembeli jadi berkurang ke fisik,” kata dia.

Perusahaannya waktu itu hampir gulung tikar. Tidak hanya MNC Publishing saja 49 penerbit lainnya yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Kota Malang juga berpikir keras untuk bertahan.

Cara Bertahan: Digitalisasi

Dengan kondisi hampir bangkrut, Gedeon akhirnya memutuskan untuk menghubungi kenalannya pada tahun 2016.

Kenalannya itu adalah Juliette Oscar Ediyanto. Ediyanto adalah CEO Kubuku.

Kubuku sendiri adalah aplikasi yang menjual buku berbentuk digital alias e-book.

Dia pun ingin bekerjasama dengan Kubuku. Dia ingin mendigitalkan produk buku yang ia terbitkan.

“Iya karena pandemi dan semua serba digital saya ingin digitalkan juga buku itu,” ujarnya.

Awalnya dia tidak yakin dengan hasil produksi jika bukunya di-digitalkan.

Namun karena itu satu-satunya solusi, Gede pun yakin dan lakukan.

“Terlebih saya yakin karena keamanannya dan juga transparansinya dan saya berani berubah dan mengambil kesempatan,” ujarnya.

Gedeon pun memilih keputusan yang benar. Kini perusahaannya dan puluhan penerbit yang tergabung dalam IKAPI Kota Malang bertahan.

“Meski juga beberapa ada yang tumbang karena ketinggalan ngambil kesempatan akhirnya bangkrut,” tuturnya.

Perusahaan Gedeon kini memproduksi buku secara digital 50 persen dan 50 persen-nya fisik.

“Malah sekarang banyak ke yang digital karena lebih murah dan praktis. Contoh kalau buku hukum fisik kami jual Rp 90 ribu kalau digital cuma Rp 60 ribu,” kata dia.

Digitalisasi Buku Tidak Buat Rugi Perusahaan Penerbit, Kenapa?

Anda pasti pernah berlangganan Netflix. Aplikasi menonton film itu pasti hanya bisa dipakai satu akun satu device dan tidak bisa digunakan ke device milik orang lain.

Hal itu juga berlaku di-digitalisasi buku. Cara kerjanya juga seperti itu.

Lantas, CEO Kubuku, Juliette Oscar Ediyanto menyebut cara itu yang membuat pengusaha penerbit buku atau publishing tidak takut rugi.

CEO Kubuku, Juliette Oscar Ediyanto (blok-a/bob)

Dia menyebut perusahaan penerbit yang bekerjasama dengannya menerapkan sistem keamanan terpercaya dan transparan.

“Banyak dulu yang berpikir bahwa kalau pdf itu mudah dikirim ke mana-mana. Akhirnya itu yang membuat publishing itu enggan digital. Saya dulu ini juga publishing dan itu yang enggan dilakukan karena takut rugi,” jelasnya.

Dalam penerapannya sendiri, di aplikasi yang dibentuk tahun 2016 ini membentuk sistem keamanan terpercaya. Maksudnya, jika orang membeli buku di aplikasi tersebut atau di website publishing yang bekerjasama, hanya bisa dibaca orang itu sendiri.

“Misalnya mas beli di MNC ya itu yang bisa baca cuma mas saja dan di satu device atau pindah device misal ke laptop. Oh ya di-screenshot juga bisa,” jelasnya.

Dengan sistem seperti itu, membuat perusahaan penerbit pun tidak rugi. Mereka tidak takut lagi, karena file bukunya akan dibagikan ke device atau orang lain.

“Jadi kalau takut dikirim satu file ke banyak orang itu tidak akan terjadi. Makannya itu yang membuat publishing ini bertahan,” kata dia.

Selain sistem keamanan, transparansi juga yang menjadi daya tawar perusahaan penerbit ini berani mendigitalkan produknya.

Kata Ediyanto, transparansi adalah yang ia terapkan di aplikasi Kubuku. Transparansi itu berupa dashboard yang bisa dilihat perusahaan penerbit.

“Jadi kalau ada yang beli di Jawa Tengah ya pasti otomatis langsung tercatat dan real time,” ujarnya.

Pemilik MNC Publishing Kota Malang, Gedeon Soerjo pun merasa terbantu akan sistem yang diberikan Kubuku tersebut.

Perusahaannya kini pun bisa bertahan dan dia sebagai Ketua DPC IKAPI Kota Malang pun bisa terus eksis.

“Meskipun produksi fisik buku masih kami pertahankan karena masih ada yang minat walaupun lambat lahun pasti berkurang,” tutupnya. (bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com