blok-A.com – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepada Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan untuk mencari solusi agar anak-anak tetap aman saat pertandingan sepakbola.
Usulan KPAI tersebut bertujuan agar Tragedi Kelam Kanjuruhan yang menewaskan setidaknya 131 orang yang diantaranya 33 anak-anak, tak akan terulang kembali.
“Menurut saya, sebaiknya TGIPF juga memasukkan isu penyelenggaraan perlindungan anak di stadion sepakbola,” kata Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring, dan Evaluasi KPAI Jasra Putra.
Tak dapat dipungkiri bahwa perhelatan sepakbola banyak dicintai oleh masyarakat. Oleh karena itu tak heran jika para orang tua kerap mengajak anaknya untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion.
Tujuan para orang tua membawa anaknya adalah untuk rekreasi, kebahagiaan, menyalurkan rasa cinta pada sepakbola, hingga memotivasi anak agar bercita-cita menjadi pemain sepakbola.
Untuk mendukung kecintaan anak terhadap dunia sepakbola, Jasra menjelaskan harus ada perhatian menyeluruh dari pencarian fakta insiden Stadion Kanjuruhan agar keamanan dan keselamatan suporter anak-anak kedepannya dapat terjamin.
Sebagai bentuk perhatian tersebut, menurut Jasra, stadion harus memperhatikan kebutuhan keluarga yang menonton baik orang tua, anak, dan bayi dengan cara mengatur tiket, akomodasi, dan akses yang layak bagi mereka.
Lebih lanjut, Jasra juga mengatakan bahwa penting bagi stadion untuk menyediakan ruangan khusus untuk ibu serta anak, seperti ruangan menyusui kamar mandi bayi seperti tempat mengganti popok, serta ruang bermain anak yang bisa berfungsi dalam situasi darurat.
Sebagai informasi tambahan, Tragedi Kelam Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) lalu mengakibatkan sekitar 33 anak tewas. Dari total korban anak tersebut, terdapat 25 anak laki-laki dan 8 anak perempuan.
Tak hanya mengakibatkan kematian saja, namun tragedi ini juga mengakibatkan sejumlah anak-anak mengalami luka dan bahkan ditinggal atau terpisah dari orang tuanya. (hen/bob)










Balas
Lihat komentar