Gresik, Blok-a.com – Lebaran di Gresik tak lengkap rasanya tanpa mencicipi kuliner khasnya, Kupat Ketheg. Bukan sekadar ketupat biasa, kupat ketheg merupakan khasanah kuliner yang bernilai sejarah dan budaya, bahkan dianggap sakral oleh sebagian orang.
Kupat ketheg berasal dari daerah Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Berjarak sekitar 4 kilometer dari pusat Kota Gresik, kawasan tersebut menjadi lokasi Kompleks Makam Sunan Giri.
Seperti diketahui, Sunan Giri adalah salah seorang Wali Songo sekaligus penguasa Kerajaan Giri Kedaton. Pemuka agama Islam gemar menyantap kupat ketheg yang menjadi makanan favoritnya saat merayakan Lebaran. Tak heran, kalau kemudian makanan ini juga disebut denga nama Kupat Giri.
Masyarakat sekitar pun mengikuti kebiasaan tersebut dan melestarikannya sampai sekarang. Kupat ketheg jadi menu khusus yang hanya bisa ditemukan di momen-momen spesial, terutama di kawasan wisata religi Giri.
Berbeda dengan ketupat umumnya yang dibuat dari beras, kupat ketheg terbuat dari ketan putih murni. Teksturnya kenyal, rasanya gurih, biasanya disajikan dengan parutan kelapa dan siraman gula merah. Sederhana, tapi kaya rasa.
Rahasia Pembuatan Kupat Ketheg
Salah satu yang paling menarik dari kupat ketheg adalah bahan rahasianya, yaitu air lanthung, campuran antara air dan endapan minyak dengan warna kehijauan. Air lanthung dipakai untuk merendam anyaman ketupat dan mencuci beras ketan dalam proses pembuatan kupat ketheg.
Saat ini, sumur air lanthung yang tersisa berada di kawasan Gunung Anyar, Kabupaten Gresik. Lokasi sumur tersebut berdekatan dengan makam Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri.
Keistimewaan air lanthung adalah membuat ketupat ketheg bisa bertahan dalam waktu lama, tidak cepat basi.
Yuyun (36), generasi masa kini yang mewarisi usaha produksi kupat ketheg, menjelaskan bahwa air lanthung membuat kupat awet sampai seminggu.
“Air ini yang bikin kupat bisa awet hingga seminggu, apalagi saat musim kemarau karena kandungan lanthungnya lebih kental dan tidak tercampur hujan,” ujarnya, dikutip dari Gresiksatu, Jumat (04/04).
Selain air, kupat ketheg juga menggunakan pembungkus yang tidak sembarangan. Daun pembungkus kupat ini harus didatangkan dari Mojokerto, karena punya karakteristik khusus.
“Daunnya memang beda, lebih kuat dan pengaruh ke rasa. Jadi meskipun sekilas terlihat seperti ketupat biasa, rasanya jelas beda,” jelas Yuyun.
Menariknya, meski proses pembuatannya rumit dan menggunakan bahan yang unik, harga kupat ketheg sangat terjangkau, hanya Rp3.000 per buah. Dalam sehari, Yuyun sendiri bisa menjual antara 50 sampai 100 biji, belum termasuk pesanan dari luar kota.
“Karena ini kawasan wisata religi, banyak pembeli dari luar Gresik. Tapi warga lokal juga banyak yang langganan, apalagi kalau sudah memasuki Lebaran seperti sekarang,” tambahnya. (gni)









