Banyuwangi, blok-a.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi terus melakukan pembenahan area wisata De Djawatan, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, pasca viral seorang pengunjung mengaku menjadi korban pratik scam atau penipuan delman di lokasi tersebut.
Kamis (1/8/2024), Disbudpar Banyuwangi bersama PT Palawi Risosis menggelar pelatihan hospitality kepada para pemilik delman da pelaku wisata De Djawatan.
Dari pantauan blok-a.com, pelatihan tersebut bertujuan agar para kusir delman lebih ramah melayani para wisatawan dan menghindari keluhan yang bersifat negatif.
Plt Kepala Disbudpar Banyuwangi Taufiq Rohman berharap, dengan adanya pelatihan tersebut, pengelola wisata bersikap lebih ramah dan sopan dalam melayani pengunjung.
“Wisata Djawatan merupakan destinasi yang dikenal secara luas hingga internasional, maka dari itu, perlu diimbangi dengan pelayanan yang baik dan memadai,” kata Taufiq Rohman.
Ditegaskan, bahwa pelatihan yang diberikan ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terhadap kemajuan wisata Djawatan.
“Kami berharap, agar pengelola wisata juga paham terkait pelayanan dan hospitality,” harapnya.
Lanjut Taufiq, ke depan, pihaknya akan terus memantau perkembangan wisata Djawatan dan juga melakukan pembenahan secara bertahap.
“Hal itu kita lakukan agar dapat meningkatkan kunjungan di wisata Djawatan,” tutupnya.
Sebelumnya, seorang wisatawan menyatakan bahwa dirinya telah menjadi korban pratik scam atau penipuan delman di tempat wisata De Djawatan, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.
Wisatawan tersebut menyampaikan pengalaman kurang mengenakkan dirinya dan rombongan dalam video yang diunggah di akun TikTok Healing Kembali (Sean) pada Selasa (16/7/2024).
Dalam keterangan video, wisatawan tersebut bercerita, dirinya dan rombongan datang ke De Djawatan sekitar pukul 07.00 WIB. Saat itu, area Djawatan masih cukup sepi pengunjung.
Setibanya di sana, mereka ditawari keliling hutan Djawatan naik delman dengan tarif Rp50 ribu dan dijanjikan akan diajak ke sejumlah spot foto.
Namun, setelah sampai di spot foto pertama, kusir delman terlihat terburu-buru dan seperti mengajak mereka menyudahi sesi foto secepatnya.
Setelah melanjutkan perjalanan, ternyata mereka dibawa ke titik awal penjemputan yang berjarak tak sampai 200 meter.
Wisatawan tersebut juga dibuat kesal dengan ulah para kusir delman yang seperti membicarakan dan menyindir mereka menggunakan Bahasa Jawa.(kur/lio)









