Kota Malang, blok-a.com – Masyarakat Jalan Simpang Ranugrati atau yang biasa disebut kawasan Kwangsan, memastikan diri tidak akan mengambil langkah Golput dalam kontestasi Pilkada Kota Malang 2024 mendatang.
Salah satu warga RT 06 RW 07, Hj Kasdi mengatakan warga Kwangsan bersepakat untuk memilih pasangan calon (Paslon) yang sudah dikenal, yakni Paslon Abadi, Abah Anton – Dimyati Ayatullah.
“Kalau saya dan warga disini akan memilih Calon Wali Kota dan Calon Wali Kota yang sudah dikenal, yakni pasangan Nomor urut 3 Abah Anton dan Abah Dimyati,” ujarnya usai mengikuti pembacaan Solawat Nabi bersama Mochamad Anton.
Dijelaskan dia, dengan memilih Abah Anton yang sudah dikenal, sudah dipastikan program Abadi ini jelas memihak kepada masyarakat kecil.
“Walikota yang suka blusukan, dan memahami persoalan masyarakat kecil ya Abah Anton. Makanya bagi kami tidak ada pilihan lain kecuali paslon Abadi,” tukasnya.
Ditempat yang sama, Elfi Gunadi yang juga merupakan warga Kwangsang menyebut sampai saat ini belum ada Walikota yang secara langsung terjun untuk menemui masyarakat hingga ke bantaran sungai selain Abah Anton. Maka dari itu, ia masih akan tetap menjatuhkan pilihan kepada paslon Abadi untuk Pilwali mendatang.
“Saya milih Abah Anton, karena kebijakannya pro wong cilik, suka blusukan sehingga tahu kebutuhan rakyatnya,” ujar Elfi.
Bahkan, menurutnya di kawasan Kwangsan dan sekitarnya hanya ada pilihan Mochamad Anton dan Dimyati Ayatullah.
” Kwangsang dan sekitarnya hanya ada pilihan Abah Anton dan Abah Dimyati saja,” imbuhnya.
“Kami berfikir rasional, memilih Wali Kota Malang yang sudah tahu kinerjanya,” tukasnya.
Tidak hanya didominasi kaum ibu-ibu saja, akan tetapi para bapak-bapak di daerah Kwangsang ini juga sepakat untuk memilih paslon Abadi.
Muhammad Rido, perwakilan dari bapak-bapak warga Kwangsang mengatakan, Walikota itu harus paham dengan rakyatnya. Tidak cukup jika hanya dibekali dengan kepintaran saja.
“Pinter saja tidak cukup tapi harus yang, faham, serta perduli dengan rakyat,” ujarnya.
Rido menambahkan, Mochamad Anton sangat memahami karakter masyarakat Kota Malang. Sehingga memiliki kelebihan yakni lebih paham dan peduli keinginan masyarakat Kota Malang khususnya warga Kwangsang.
“Abah Anton dan Abah Dimyati, sama-sama orang Malang dan sama-sama mudah ditemui warga, jadi kalau ada masalah bisa langsung di sampaikan kerumahnya,” ujarnya.
Selain itu, Rido juga menjelaskan bahwa pemimpin itu harus sepaham dengan masyarakat. Apalagi, mayoritas warga Kwangsang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang terbiasa dengan tahlilan dan sholawatan.
“Kita memiliki tradisi tahlilan dan solawatan, pemimpinnya harus orang NU, dan itu hanya ada di Abah Anton dan Abah Dimyati,” tandas peria separuh baya yang merupakan pendukung Abah Anton sejak tahun 2013 lalu itu.
Abah Alwi yang merupakan sesepuh kawasan Kwangsan juga menyampaikan hal yang sama. Jika sudah dikenal tidak mungkin menghianati rakyatnya.
“Tidak mungkin orang yang kita sudah kenal lama akan berkhianat, Apalagi beliau orang Malang asli, dan kita tahu rumahnya,” tandas Abah Alwi.
Sementara itu, Abah Anton mengaku bersyukur dukungan yang luar biasa dari warga Kwangsan dan sekitarnya.
“Masyarakat sangat antusias. Semua kompak ini menjadi pertanda baik untuk pasangan Abadi,” ujar Abah Anton. (mg1/bob)









