Jombang, blok-a.com – Penderitaan harus dijalani Khotijah (52), warga Dusun Temon, Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Di tengah perjuangannya melawan kanker serviks, ibu rumah tangga ini juga harus menghadapi ketidakpastian jadwal operasi serta kesulitan ekonomi yang semakin menghimpit keluarganya.
Selama tiga bulan terakhir, Khotijah mengaku mengalami nyeri hebat di bagian punggung dan perut. Kondisinya juga disertai mual dan muntah setiap kali mencoba makan, sehingga semakin menyulitkan aktivitas sehari-harinya.
“Sakit di punggung sama perut, kalau makan pasti langsung mual dan muntah,” ungkap Khotijah saat ditemui di rumahnya, RT 1/RW 2, Dusun Temon, Desa Temuwulan.
Untuk mendapatkan penanganan medis, Khotijah bersama suaminya, Yunus (56), mengandalkan jaminan kesehatan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau Kartu Indonesia Sehat (KIS). Keduanya harus bolak-balik dari Jombang ke rumah sakit rujukan di Surabaya untuk menjalani pemeriksaan dan kontrol kesehatan.
Dalam dua bulan terakhir, perjalanan ke Surabaya tersebut dilakukan secara rutin setiap satu hingga dua minggu sekali. Namun, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, keluarga masih harus menunggu kepastian jadwal operasi yang direkomendasikan pihak rumah sakit.
Menurut Yunus, pihak rumah sakit meminta mereka menunggu sekitar satu hingga dua bulan ke depan. Sementara itu, Khotijah tetap diminta menjalani kontrol secara berkala tanpa kepastian tanggal pelaksanaan operasi.
“Belum ada kepastian jadwal operasi, baru disuruh menunggu satu sampai dua bulan lagi dan tiap minggu atau dua minggu diminta kontrol ke Surabaya,” ujar Yunus.
Ketidakpastian penanganan medis bukan satu-satunya persoalan yang harus dihadapi keluarga tersebut. Kondisi kesehatan Khotijah turut berdampak pada perekonomian rumah tangga mereka.
Selama ini, Yunus bekerja sebagai kuli bangunan, buruh tani, dan pekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, demi mendampingi istrinya menjalani pengobatan di Surabaya, ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya selama sekitar dua bulan terakhir.
“Sudah sekitar dua bulan saya tidak bekerja karena harus menunggui istri berobat,” tuturnya.
Berhentinya sumber penghasilan membuat keluarga tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain biaya hidup, mereka juga harus menanggung ongkos transportasi untuk perjalanan berulang kali dari Jombang ke Surabaya.
Dalam kondisi terdesak, Yunus mengaku terpaksa meminjam uang kepada tetangga dan kerabat agar kebutuhan keluarga serta biaya perjalanan berobat tetap terpenuhi.
Utang yang terus bertambah menjadi beban tersendiri bagi keluarga tersebut. Di satu sisi, Khotijah membutuhkan penanganan medis untuk penyakit yang dideritanya. Di sisi lain, suaminya harus berjuang mencari cara agar kebutuhan rumah tangga tetap tercukupi.
Di tengah kondisi kesehatan dan ekonomi yang semakin sulit, Yunus juga mengaku belum pernah menerima kunjungan dari pemerintah daerah maupun pihak puskesmas setempat untuk memantau kondisi istrinya.
Saat ditanya apakah pernah ada petugas dari instansi kesehatan atau pemerintah setempat yang datang melihat kondisi Khotijah, Yunus menjawab singkat.
“Tidak pernah,” katanya.
Keluarga kini berharap ada perhatian dan pendampingan dari pihak terkait, terutama untuk membantu memastikan kelanjutan penanganan medis Khotijah serta meringankan beban yang mereka hadapi.
Kepastian jadwal operasi menjadi harapan utama keluarga agar Khotijah segera mendapatkan tindakan medis sesuai rekomendasi dokter. Di tengah keterbatasan ekonomi dan utang yang terus membebani, mereka juga berharap memperoleh dukungan agar proses pengobatan dapat terus berjalan.
Bagi Khotijah dan Yunus, harapan untuk sembuh kini berjalan beriringan dengan perjuangan mempertahankan kehidupan sehari-hari. Mereka menanti kepastian penanganan medis sekaligus uluran perhatian agar beban yang ditanggung keluarga tersebut tidak semakin berat.(Sya)










Balas