Tragedi Kanjuruhan Menjadi Kali Pertama dan Terakhir Lutfia Menonton Bola

korban aremania lutfia
Suasana Rumah Duka Lutfia (ist)

Kota Malang, blok-A.com – Lutfia Damayanti mejadi salah satu korban tragedi Kanjuruhan yang meninggal dunia pada laga Arema FC vs Persebaya pada Sabtu malan, 1 Oktober 2022 lalu.

Gadis asal Polehan, Kecamatan Blimbing kota Malang menjadi salah satu diantara 131 korban yang meninggal dunia pada tragedi Kanjuruhan.

Saat ditemui di rumah duka, ayah kandungnya, Mufid menceritakan bagaiman anak ketiganya itu berpamitan menonton pertandingan bola.

“Anaknya boncengan sama temannya perempuan, dua dunya meninggal dunia,” jelas Mufid pada awak media.

Saat mendapat kabar sang anak gadisnya meninggal dunia, sontak Mufid yang awalnya sedang bekerja di Suarabaya syok berat hingga terjatuh pingsan di tempat kerjanya. Tak sadarkan diri cukup lama, hingga setibanya di rumah duka ia pun baru tersadar.

“Kerja jadi tukang bangunan di atas tahu tahunya di bawah gak sadar, pingsan gak sadar sampai rumah posisi pingsan, baru sadar ketika di rumah,” tuturnya.

Gadis yang berusia 20 tahun ini ditemukan keluarga setelah seharian tidak pulang ke rumah. Lutfia baru berhasil ditemukan setelah salah satu teman kakak Lutfia, yang juga menjadi salah satu korban yang selamat di Kanjuruhan mencarinya ke rumah.

Namun jarena tak juga pulang hingga Minggu (2/10) pagi, lantas kakak Lutfia berserta temannya mencarinya ke rumah sakit.

“Jadi waktu itu anak pertama saya nanya temannya, adik saya gak pulang juga, akhirnya balik lagi untuk mencari anak saya. Dapat info dari temannya ternyata anak saya di RSUD Kanjuruhan,” jelasnya.

Dari awal, sang ibu tidak mengizinkan Lutfia untuk menonton sepak bola. Namun sang korban terus membujuk untuk tetap berangkat hingga memohon mohon.

Saat Lutfia ditemukan, menurut cerita Mufid mengatakan kondisi Lutfia mengalami luka lebam, namun ia mengatakan tidak ada penjelasan detail dari pihak tik medis, pihak keluarga hanya diberi surat keterangan meninggal dunia tanpa ada penyebab.

“Di pelipis kanan lebam, hidung keluar darah mimisan, pantat ditemukan lebam dan darah kotor. Memang ada surat dari RSUD, tapi tidak ada keterangan lebih jelas hanya nama dan keterangan meninggal,” tuturnya.

Hingga saat ini, Mufid tak menyangka anaknya menjadi salah satu korban jiwa di Stadion Kanjuruhan. Lataran menurutnya, Lutfia tidak pernah melihat pertandingan Areman FC bahkan ia menuturkan anaknya tidak begitu suka sepakbola.

“Percaya gak percaya, anak saya gak pernah suka sepakbola. Gak pernah kepikiran segitu, dia baru pertama kali nonton. Mangkanya minta izin ibunya untuk lihat, padahal sudah dilarang tapi anaknya mohon mohon,” katanya.

Pesan terakhir Lutfia yang disampaikan ke ibunya ketika ia hendak berpamitan, Lutfi menyebutkan ini akan menjadi izin pertama dan terakhir. Ia berjanji setelah ini tidak akan menonton sepakbola kembali. Mufid masih tak menyangka, ternyata itu pertanda anaknya akan pergi selama lamanya.

Mufid juga menceritakan keseharian anak ketiganya itu, Lutfia, ia menceritakan Lutfia sosok anak yang baik penurut dan sering membantu ibunya berjualan di pasar.

“Dia anaknya baik, gak pernah bantah orang tua, sekolah juga gak pernah bolos, selalu bantuin ibunya berjualan di pasar. Kemarin itu sempet nyuruh jangan jualan dulu, ia mau lihat arema,” jelasnya.

Setelah kejadian itu, Mufid berharap siapapun tersangkanya semoga di hukum seadil adilnya. Karena menurutnya, anaknya merupakan suporter legal jadi tidak bersalah.

“Anak saya beli tiket, tidak suporter ilegal dia itu legal, suporter seharusnya kalau punya tiket bisa nonton dengan aman, fungsinya tiket itu mau nonton aman. Saya gak terima dengan minta maaf saja. Saya cuma berharap semoga setelah ini tidak akan terjadi lagi, pelaku juga harus diadili seadil adilnya,” pungkas Mufid.

(mg2/ptu)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com