Sejarah Museum Bagawanta Bhari Kediri yang Viral Usai Dijarah Massa Demo

Museum Bagawanta Bhari (google review)
Museum Bagawanta Bhari (google review)

Blok-a.com – Museum Bagawanta Bhari di Kediri tiba-tiba ramai diperbincangkan. Hal itu setelah beberapa koleksi bersejarahnya dilaporkan rusak dan dijarah saat aksi demonstrasi pada tanggal 30 Agustus 2025 yang berakhir ricuh. Padahal, museum ini menyimpan nilai sejarah penting tentang perjalanan panjang Kediri sejak masa kerajaan hingga modern

Hari berikutnya dalam konferensi pers, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, merinci sejumlah kerusakan dan kehilangan di museum. Salah satu benda cagar budaya yang hilang adalah fragmen Kepala Ganesha dan tiga koleksi kain batik wastra.

Selain itu, massa juga merusak miniatur lumbung dan sebuah Arca Bodhisatwa. Kaca-kaca museum pun pecah akibat aksi anarkis tersebut.

“Kami berharap sekali bisa kembali, karena peninggalan budaya memiliki nilai sejarah jadi sangat tidak pantas untuk menjadi sasaran,” kata Mas Dhito, didampingi jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kediri, (31/8/2025).

Profil Museum Bagawanta Bhari Kediri

Museum Bagawanta Bhari diresmikan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kediri, Ustri Sastradireja pada tanggal 5 Juli 1985. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, museum ini berperan penting dalam upaya perlindungan dan pelestarian warisan budaya Kediri.

Beberapa koleksi bernilai tinggi juga pernah dititipkan di Museum Mpu Tantular maupun Museum BP3 Trowulan/Pusat Informasi Majapahit (PIM) demi menjaga kelestariannya.

Museum ini diberi nama Bagawanta Bhari, merujuk pada tokoh spiritual asal Desa Culanggi yang dihormati karena kebijaksanaannya. Menurut laman resmi kedirikab.go.id, tokoh ini pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong memperoleh penghargaan istimewa.

Jika disamakan dengan sekarang, anugerah tersebut sebanding dengan Parasamya Purnakarya Nugraha atau bahkan Kalpataru, yang diberikan kepada mereka yang berjasa besar dalam penyelamatan lingkungan.

Bagawanta Bhari dikenal sebagai sosok yang gigih melindungi alam dari bahaya banjir yang hampir setiap tahun melanda daerahnya. Dengan bantuan tanpa pamrih, ia berhasil menjadi teladan sekaligus figur yang dikagumi masyarakat Kediri pada zamannya.

Karena kepedulian dan keteguhannya dalam menjaga keseimbangan alam, namanya kemudian dinilai layak sebagai simbol pelestarian lingkungan dan kebijaksanaan.

Koleksi Museum Bagawanta Bhari

Museum Bagawanta Bhari berlokasi di kompleks Pemerintah Kabupaten Kediri, tepatnya di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Ngasem, Kediri. Beberapa koleksi yang tersedia sebelum mengalami insiden perusakan dan penjarahan, di antaranya:

  • Arca Ganesha – digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dengan empat tangan, melambangkan dewa ilmu pengetahuan dan keselamatan.
  • Arca Nandi – berbentuk sapi, menjadi wahana sekaligus simbol Dewa Siwa.
  • Miniatur Rumah – artefak pemujaan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, biasa ditempatkan di sawah.
  • Arca Tokoh – arca dua sisi berbentuk laki-laki dan perempuan yang belum teridentifikasi.
  • Arca Brahma – bagian dari Trimurti Hindu, digambarkan berwajah empat dengan atribut camara dan aksamala.
  • Jaladwara – saluran air dari candi, berbentuk makhluk mistis bawah air, melambangkan tolak bala.
  • Bejana/Gentong Batu – wadah penyimpanan air dari masa lampau.
  • Arca Wisnu – dewa penjaga alam semesta, digambarkan dengan senjata Chakra dan bunga teratai.
  • Kepala Kala – ornamen candi berbentuk kepala raksasa, simbol penolak bala.
  • Lapik Arca – alas arca berhias padma atau teratai, disebut Padmasana.
  • Umpak Batu – penyangga tiang bangunan dari batu andesit.
  • Fragmen Tembikar – pecahan gerabah dari situs sejarah di Kediri.

Hingga saat ini, beberapa koleksi yang hilang, seperti fragmen arca Ganesha dan sejumlah wastra, masih belum ditemukan keberadaannya.

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)

Exit mobile version