Kota Malang, blok-a.com – Tersiar kabar duka untuk dunia seni lukis di Indonesia khususnya Kota Malang.
Pelukis kondang sekaligus penyandang disabilitas, Sadikin Pard dikabarkan meninggal dunia (2/12/2024) sore kemarin.
Dilansir dari berbagai sumber, Sadikin Pard dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung. Dia sempr dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Sadikin Pard terkena serangan jantung saat mengikuti pameran yang diadakan Kementerian Sosial (Kemensos) untuk memperingati bari Disabilitas yang jatuh pada Selasa (3/12/2024).
Kini Sadikin Pard meninggalkan banyak kenangan. Siapa dia dan apa karyanya? Berikut ini rangkumannya.
Sadikin Pard lahir pada 29 Oktober 1966. Dia terlahir difabel dengan tanpa tangan.
Jiwa seni lukisnya mulai muncul sejak Taman Kanak-Kanak. Meskipun tak punya tangan, melukis dijadikannya hobi.
Karena gemarnya ia melukis, Sadikin juga pernah les private melukis di rumahnya. Ia menekuni dunia lukis hingga SMA di SMA Santa Maria Kota Malang.
Ia pun melanjutkan pendidikan di UMM jurusan psikologi. Jurusan itu sebenarnya bukanlah pilihannya, namun apa boleh buat ia harus menjalani jurusan itu setelah gagal mengambil jurusan arsitek yang merupakan cita-citanya.
Masuk jurusan psikologi, ternyata menjadi titik mula dia menjadi pelukis profesional. Tepatnya pada semester 3 dia mendapat informasi melalui koran bahwa ada penyandang disabilitas, yakni tuna daksa yang sukses melukis.
Akhirnya semangat itu, membuatnya berupaya menjadikan lukisannya dikenal. Sadikin Pard pun lalu menciptakan lukisan melalui keterbatasannya, yakni kaki dan mulut. Hasil lukisan itu ia kirim ke organisasi yang menghimpun karya pelukis yang menggunakan kaki dan mulut atau Association of Mouth and Foot Painting (AMFPA).
Sadikin Pard pun tergabung di organisasi yang berada di Swiss itu. Ia akhirnya menjadikan lukisan sebagai profesinya.
Oleh karena itu, dia pun wajib untuk mempertahankan kualitas lukisannya. Setidaknya setiap tahun 15 karya lukisan ia kirimkan ke AMFPA. Dengan itu, dia mendapat bayaran pada tahun 1989 sebesar kurang lebih Rp 300 ribu.
Sejak saat itu, nama Sadikin mulai dikenal mendunia. Berbagai pameran luar dan dalam negeri ia ikuti.
Karena kualitasnya sudah teruji, pernah suatu kali lukisannya terjual hingga Rp 250 juta.
Sejak saat itu, seni melukis menjadi ladang rejekinya. Ia punya rumah besar di Jalan Selat Sunda Raya D5/35 yang berisi koleksi lukisan dan galeri lukisannya dan mobil serta sepeda motor yang merupakan hasil dari melukis.
Sadikin Pard kini telah meninggalkan itu semua beserta istri bernama Tini dan dua orang anak bernama Alrona Setiawan dan Almedo Pard. (bob)









