Mojokerto, blok-a.com – Kepulangan rombongan lima bus siswa SMPN 7 Kota Mojokerto dari kegiatan Outing Class di Pantai Drini, Gunungkidul, Yogyakarta, pada Selasa malam (28/1/2025) pukul 21.04 WIB, disambut dengan suasana haru dan duka di halaman sekolah, Jalan Karyawan No. 4, Sentanan, Kota Mojokerto.
Sebanyak 257 siswa mengikuti kegiatan tersebut, namun tragedi terjadi saat 13 siswa terseret ombak.
Akibat kejadian ini, tiga siswa meninggal dunia, satu masih dalam pencarian, dan sembilan lainnya selamat. Beberapa masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Dari sembilan siswa yang selamat, tujuh telah kembali ke Mojokerto bersama rombongan bus, sementara dua lainnya masih dirawat intensif di RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Salah satu dari mereka masih dalam kondisi kritis di ruang ICU, sedangkan satu lainnya sudah bisa diajak berkomunikasi.
Setibanya di sekolah, para siswa yang selamat dikumpulkan di halaman untuk mengikuti doa bersama sebelum diserahkan kepada orang tua masing-masing. Suasana haru dan tangis keluarga menyelimuti momen tersebut.
Upaya wartawan untuk meminta keterangan dari Kepala Sekolah SMPN 7 terkait insiden yang menelan empat korban jiwa juga belum membuahkan hasil.
Di rumah duka Alfian Aditya Pratama, salah satu siswa yang meninggal, di Jalan Flamboyan, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, keluarga dan warga sekitar telah bersiap menyambut kedatangan jenazah. Jenazah tiba sekitar pukul 22.50 WIB, disambut dengan tangis keluarga, kerabat, dan tetangga.
Pj Wali Kota Mojokerto, Moh. Ali Kuncoro, bersama rombongan serta Kapolres Mojokerto Kota turut hadir untuk menyampaikan belasungkawa.
“Sekarang ananda Alfian sudah pulang. Mari kita mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di surga. Semoga keluarga diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” ujar Ali Kuncoro.
Sang ayah sempat menceritakan momen terakhir sebelum kepergian putranya. Sehari sebelum berangkat, Alfian meminta dibelikan sandal putih, kaos hitam polos, serta dompet. Ia juga menyempatkan diri untuk potong rambut di barbershop dekat rumah.
“Kemarin dia minta belikan dompet, kaos hitam polos, dan sandal putih. Dia sendiri yang pilih warnanya. Sorenya sebelum berangkat, dia pergi sendiri untuk potong rambut,” ungkap sang ayah dengan suara bergetar.
Keluarga memutuskan untuk segera memakamkan jenazah malam itu juga di pemakaman umum Kelurahan Wates tanpa menggunakan peti.
Sebelum pemakaman, salat jenazah digelar di musala, diikuti oleh Pj Wali Kota beserta rombongan.(sya/lio)




