Monumen Trisula Blitar
Monumen Trisula Blitar

3 Tragedi Berdarah Paling Kelam di Jawa Timur

blok-a.com – Indonesia, sebagai negara dengan sejarah panjang dan kompleks, menjadi saksi bisu  berbagai tragedi dan konflik selama berabad-abad. Berbagai konflik tercipta karena perbedaan pendapat dan landasan.

Sayangnya tragedi-tragedi ini merenggut banyak nyawa orang-orang tidak berdosa. Para keluarga korban bahkan kebingungan, karena merasa bahwa keluarga mereka yang terbunuh tidak ikut terlibat dalam penyebab kerusuhan.

Bahkan terkadang tragedi ini diduga sebagai tunggangan kepentingan beberapa pihak saja. Mereka memanfaatkan kerusuhan untuk menghilangkan orang yang bertentangan dengan mereka.

Berikut 3 tragedi berdarah di Jawa Timur yang telah tercatat sejarah: 

1. G30S PKI Blitar

Jawa Timur juga menjadi saksi dari peristiwa kelam terkait dengan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI). Partai ini berniat mengkudeta kepemimpinan di Indonesia dan menyebarkan pemahaman komunis mereka.

Di kota Blitar, yang juga dikenal sebagai kota kelahiran Soekarno, pemimpin nasional yang karismatik, terjadi pemberontakan yang memakan korban jiwa.

Pada tahun 1948, sebuah pemberontakan komunis pecah di Blitar, yang sebelumnya telah menjadi basis pendukung Soekarno. Para pendukung PKI melakukan kudeta dengan menangkap 7 jendral untuk dieksekusi, lalu dimasukkan mayatnya kedalam lubang yang diberi nama lubang buaya.

Pemberontakan ini dipadamkan oleh pemerintah dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menjalankan Operasi Trisula yang dijalankan oleh para TNI, ratusan anggota Batalion, Resimen, hingga Kodim dikerahkan untuk menangkap para anggota PKI

Bahkan untuk mendukung operasi ini, Panglima Komando Wilayah Udara (Kowilu) IV, Komodor Udara Suwoto Sukendar mengeluarkan Surat Perintah pada 6 Juni 1968 tentang pembentukan Satuan Tugas Operasi Udara (Satgas Opsud) Elang dipimpin oleh Mayor Udara Sugiantoro.

Ratusan anggota dan yang dianggap PKI ditangkap, banyak dari mereka menghadapi eksekusi mati dipenjara, diasingkan, hingga terbunuh saat penangkapan. Peristiwa ini mengguncang Blitar dan menciptakan ketakutan dalam masyarakat. Karena diduga terdapat orang yang bukan anggota PKI namun ikut ditangkap.

2. Pembunuhan Dukun Santet Banyuwangi

Pada tahun 1998, terjadi peristiwa pembantaian di Banyuwangi yang menargetkan orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam seperti santet atau tenung. Para pelaku yang diduga melakukan praktik ilmu hitam dibunuh ditempat tanpa ada pengadilan.

Pembantaian sekitar 150 orang tersebut berlangsung dari Februari hingga September 1998 dan belum ada motif pastinya.

Kejadian awal pembantaian terjadi pada Februari 1998 dan melibatkan pembunuhan oleh warga sipil dan oknum asing yang disebut “ninja.” Bahkan menurut rumor, para orang gila juga ikut dalam pembantaian ini.

Namun, banyak korban ternyata bukan dukun santet, melainkan guru ngaji, dukun suwuk, atau tokoh masyarakat. 

Radiogram yang dikeluarkan oleh Bupati pada bulan Februari untuk mendata individu yang memiliki ilmu supranatural dianggap sebagai pemicu peristiwa, karena menyebabkan informasi tersebut bocor dan para korban dilaporkan sebelum menjadi target pembunuhan.

Puncak peristiwa ini terjadi setelah radiogram September yang menegaskan pendataan bagi siapa saja yang menjadi dukun untuk diselamatkan. Pembunuhan meningkat drastis, dan masyarakat menduga bahwa pemerintah menggunakan radiogram, sebagai alasan membasmi tokoh-tokoh yang berlawanan ideologi. 

Selama pembantaian, ada laporan mengenai sosok yang disebut “ninja” yang mengenakan pakaian hitam dan diklaim memiliki kemampuan luar biasa, seperti bergerak dengan cepat dan mampu melakukan kekerasan fisik yang mengerikan. 

Sejumlah penyelidikan telah dilakukan, termasuk oleh Komnas HAM dan tim dari Nahdlatul Ulama, tetapi pelaku utama dan motif pasti peristiwa ini belum terungkap. Banyak aspek dari pembantaian ini masih menyelimuti misteri dan kontroversi. 

3. Kerusuhan Stadion Kanjuruhan

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, merupakan peristiwa tragis yang terjadi setelah pertandingan antara Arema FC dan Persebaya pada tanggal 1 Oktober. 

Peristiwa ini mengukir sejarah kelam baru di dunia sepak bola, khususnya di Jawa Timur. 

Pertandingan ini berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk Persebaya, yang menimbulkan kekecewaan di kalangan suporter Arema FC. 

Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta, memberikan penjelasan kronologi kejadian ini. Pertandingan berlangsung tanpa masalah, tetapi masalah muncul setelah pertandingan berakhir, ketika suporter Arema FC yang kesal dengan kekalahan tim mereka berusaha mencari pemain dan ofisial tim untuk melampiaskan kekecewaan mereka.

Kekecewaan para suporter karena kekalahan Arema FC setelah 23 tahun tanpa kekalahan di kandang sendiri menyebabkan mereka turun ke tengah lapangan. Pihak keamanan telah melakukan upaya pencegahan untuk mencegah mereka masuk ke lapangan, tetapi situasi semakin memanas ketika beberapa suporter mulai berperilaku anarkis. 

Untuk mengatasi kerusuhan ini, polisi akhirnya menggunakan gas air mata. Ini memicu kekerasan dan bentrokan antara suporter Arema dan petugas kepolisian, yang berujung pada kerusakan fasilitas stadion.

Selain kerusuhan di lapangan, ada juga penumpukan besar di pintu keluar stadion, yang menyebabkan kurangnya oksigen dan sesak nafas di antara penonton. Pintu stadion yang seharusnya dibuka beberapa menit setelah pertandingan, malah masih dalam kondisi terjunci.

Petugas medis dan tim gabungan berusaha memberikan pertolongan di dalam stadion, dan evakuasi korban ke rumah sakit dilakukan. Total korban tewas akibat peristiwa ini mencapai 130 orang, termasuk suporter dan anggota polisi. 

Keadaan ini menggambarkan kekacauan dan tragedi yang berdampak besar di Stadion Kanjuruhan, Malang. Hingga saat ini, keluarga korban masih menuntut keadilan pengusutan tuntas tragedi tersebut. (mg4)