Kota Malang, blok-A.com – Sistem zonasi yang diterapkan sejak 2018, ternyata memiliki dampak tersendiri bagi sekolah swasta di Kota Malang. Faktanya, terdapat sekolah yang hanya memiliki 35 murid saja, untuk ukuran Sekolah Menengah Pertama.
blok-A.com, mencoba menghubungi salah satu pakar pendidikan di Kota Malang, untuk membedikan tanggapannya terhadap pemberitaan yang beredar.
Pakar Pendidikan Universitas Brawijaya, Lukman mengemukakan gagasannya, atas pemberitaan sekolah swasta di Kota Malang, yang terkena dampak zonasi itu sendiri.
“Jika kita runut awalnya, keberadaan SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, itu kan salah satu upaya pemerintah memenuhi HAM dalam pendidikan. Untuk negeri sendiri, pemerintah memang menyediakan sekolah gratis, sehingga masyarakat memperoleh pendidikan yang murah. Pemerintah punya jalannya sendiri untuk memperluas pendidikan,” ucapnya pada Jum’at (19/08/2022).
“Seiring berjalannya waktu, penduduk indonesia terus meningkat dan ada ledakan jumlah penduduk, dengan kondisi warga yang usia mudanya leebih banyak dari usia tua,” tambahnya.
Lukman mengtakan bahwa setiap tahunnya, penduduk indonesia kian bertambah. Itu menjadi peluang sebagai generasi pendidikan selanjutnya, mengenyam pendidikan layak di negeri maupun swasta. Selain itu, ia juga berpendapat bahwa efek dari zonasi itu, menjadi tantangan swasta untuk menghadapi situasi tersebut.
“Pendidikan swasta kan menghidupi dirinya sendiri. Jadi mereka harus menghitung biaya operasional, biaya perusahaan, modal dan lain lain. Kalau menurut saya, tinggal mereka atur strategi dalam menarik siswa ke sekolah swasta,” ujar Lukman.
“Tentang pemberitaan 35 murid saja, karena mereka kan diapit oleh sd negeri sehingga terkena imbas zonasi. Pandangan saya itu memang konsekuensi untuk pendidikan swasta,” tambahnya.
Lukman memiliki pola pikirnya sendiri dalam menyikapi hal tersebut. Ia menyarankan bahwa swasta harus segera melakukan improve dalam mengatasi hal tersebut agar tetap eksis. Lukman berpendapat bahwa pemerintah itu punya jalannya sendiri untuk memperluas pendidikan.
“Sekolah swasta mulai melakukan evaluasi dan improvement atau perubahan strategi ,untuk menarik calon muridnya. Kelemahan itu bisa ditutupi dengan startegi sendiri kaya metode pembelajaran yang baru atau mungkin trend pendidikan yang baru,” tutur Lukman.
“Misal, sekolah swasta menerapkan full english. Jadi nanti muridnya ketika lulus, sudah jago berbahasa inggris. Itu kan strategi baru untuk menutupi kelemaha. Negeri tidak bisa menyaingi, karena kan mereka mengikuti kurikulum,” tambahnya.
Lukman menuturkan bahwa ada dua kesimpulan terkait imbas zonasi tersebut, mulai dari yang negeri ataupun swasta. Ia menyarankan lembaga negeri juga perlu evaluasi untuk melihat kapasitas diri. Sedangkan untuk swasta, perlu adanya improvement menyikapi sistem zonasi.
“Kesimpulannya, lembaga negeri harus evaluasi terkait kapasitas diri. Tolong jangan seperti bersaing ya. Lihat sekolah negeri lainnya yang banyak, malah ikut-ikutan menambah kuota. Pertimbangkan kapasitas diri duru. Untuk yang swasta, mulai mencari strategi baru, dalam menghadapi sistem zonasi. Saya yakin kok itu bisa dipelajari, kalo mindsetnya pengusaha, pasti ada jalan,” tutup Lukman.
(mg1/rco)










Balas