Cara Hidup Yunitasari, Mahasiswa Perantauan di Malang dengan Rp 15 Ribu per Hari

Mahasiswi perantauan asal Blitar di Kota Malang, Yunitasari (dok. Mahasiswa Magang Unitri Akroman)
Mahasiswi perantauan asal Blitar di Kota Malang, Yunitasari (dok. Mahasiswa Magang Unitri Akroman)

Kota Malang, blok-a.com – Mahasiswa perantauan di Kota Malang kadang tak punya uang bulanan yang cukup. Kadang mereka harus menata keaungan dengan baik. Bahkan juga harus mencari tambahan untuk bisa makan di Kota Malang.

Salah satunya adalah Yunitasari, mahasiswi semester 7 Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Malang.

Perempuan asal Blitar ini hanya mendapat uang bulanan Rp 450 ribu per bulan atau Rp 15 ribu per hari. Dengan uang tersebut, dia harus mengalokasikan untuk makan dan kebutuhan kuliah.

“Mengelola uang saku yang terbatas sebagai mahasiswa akhir memang sulit dan menjadi tantangan,” kata dia.

Untuk itu, Yuni setiap bulannya membuat perencanaan keuangan yang tepat dan efisien. Dia pun menulis pengeluaran dan pemasukan selama satu bulan.

Perempuan kelahiran 2001 ini menjelaskan, dia menghapus semua pengeluaran yang tidak penting. Semua pengeluarannya adalah untuk makan dan transportasi saja. Bahkan, dia kerap mencari diskon untuk makan agar hemat biayanya.

“Saya utamakan kebutuhan dasar terlebih dahulu dan sebagai mahasiswa. Saya selalu mencari diskon-diskon untuk menghemat biaya,” kata dia.

Untuk transportasi, dia memilih jalan kaki dari kosnya ke kampus. Dia juga jarang menggunakan ojek online. Ojek online hanya untuk kebutuhan penting saja, seperti ke rumah teman dan ke stasiun jika hendak pulang.

Sementara untuk makannya, perempuan ini hanya makan dua kali sehari. Dia kadang membeli makan dikisaran Rp 8 ribu. Ayam geprek tanpa nasi hingga mie ayam adalah langganan santapnya setiap hari.

Jika ingin berhemat, anak bungsu dari empat bersaudara ini membeli lauk sederhana seperti tempe dan tahu. Biasanya dia habis Rp 2 ribu. Jika ditambah, habis Rp 3 ribu per hari.

“Untuk nasinya saya masak sendiri di kosan,” jelasnya.

Sebagai mahasiswi, dia pun masih bisa menyalurkan dana untuk kesenangannya, yakni ngopi. Untuk nongkrong di kafe, wanita berambut panjang ini kerap riset terlebih dahulu. Dia akan memilih warung kopi yang murah dan ada diskonnya.

“Untuk hiburan seperti ngopi, saya melakukannya ketika benar-benar ingin, dan tidak menjadikan kebiasaan. Kadang seminggu sekali atau dua kali,” kata dia.

Evaluasi Rutin Bulanan untuk Pengeluaran

Setiap bulannya, Yuni mengevaluasi pengeluarannya selama satu bulan.

Dia selama sebulan mencatat semua pengeluaran dan pemasukan keuangannya selama berkuliah di Malang.

Dari catatan itu, jika dia menemukan kelebihan pengeluaran, maka di bulan berikutnya dia akan membatasi pengeluaran untuk hal itu.

“Setiap akhir bulsn saya melakukan evaluasi terhadap pengeluaran saya, melihat bagaimana pengeluaran tersebut, dan mencari cara untuk menghemat lebih banyak di bulan berikutnya. Itu strategi saya,” jelasnya.

Dia menjelaskan, pengeluaran yang tidak bisa diganggu atau diubah ialah untuk iuran kampus, membeli buku, dan alat tulis.

“Itu mendukung proses kuliah saya,” kata dia.

Sementara itu, pengeluaran yang biasanya dihematnya itu ialah untuk makan dan ngopi.

“Biasanya yang saya hemat itu untuk makan dan ngopi saja,” kata dia.

Tambah Pendapatan dengan Jasa Printing

Karena mahasiswi semester akhir, Yuni memiliki waktu yang luang. Oleh karena itu, dia juga membuka jasa printing untuk memeperoleh pendapatan tambahan bulanan.

“Printing-printing ini saya gunakan untuk tambahan biaya hidup saya,” jelasnya.

Jasa printing ini untungnya laris. Teman-temannya kerap menggunakan jasa printingnya untuk tugas kuliah. Per bulan dia mampu mendapatkan tambahan uang Rp 200 ribu.

“Keuntungan saya Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu,” kata dia.

Hasil tambahan jasa printing ini, Yuni menjelaskan, mampu ia gunakan untuk tabungan.

“Saya gunakan untuk dana darurat jika sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak,” tutupnya.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com