Mojokerto, blok-a.com – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau Ning Ita menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan media massa dalam menyampaikan informasi yang faktual sekaligus proporsional kepada masyarakat.
Hal ini disampaikan Ning Ita saat memberikan sambutan dalam sebuah forum diskusi bersama insan pers di Namu Cafe, Sentra IKM Batik Maja Barama Wastra, Jalan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Rabu (24/9/2025).
Menurutnya, selama ini tidak semua pemberitaan mencerminkan kondisi secara proporsional. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya memilih tetap bersikap objektif dan bertanggung jawab atas setiap langkah kebijakan yang diambil bersama jajaran Pemerintah Kota Mojokerto.
“Bagi saya proporsional itu penting. Selama kami di jajaran Pemkot Mojokerto sadar apa yang kami perbuat, insya Allah kami akan tetap semangat melayani masyarakat. Jadi, kalau ada yang berharap kami menangis, insya Allah tidak. Kami tetap tersenyum karena tugas dan tanggung jawab kami jelas, yaitu membangun kota ini,” ujar Ning Ita.
Ning Ita menambahkan, masa jabatannya yang berakhir pada 2031 menjadi tantangan tersendiri. Sebab, dinamika kebijakan nasional semakin menuntut kepala daerah untuk kreatif menghadapi berbagai keterbatasan, khususnya terkait desentralisasi fiskal.
“Dalam rapat Apeksi dengan Menteri, kami 15 kepala daerah pulang tanpa senyum karena tantangan tahun depan lebih berat dari tahun ini. Tapi bagi saya, ini justru peluang untuk berinovasi. Kami pernah melewati masa sulit saat pandemi, dan Kota Mojokerto mampu bangkit dengan pertumbuhan ekonomi yang positif setelah sempat terpuruk,” tegasnya.
Selain soal pembangunan, Ning Ita juga menyinggung pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Ia mencontohkan pengalaman Kota Mojokerto saat pandemi Covid-19, ketika aplikasi Gayatri yang dikembangkan Pemkot mendapat apresiasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) karena mampu memetakan kondisi warga secara detail melalui fitur geo-tagging.
Ning Ita mengingatkan, upaya penanggulangan bencana lebih baik dilakukan secara preventif ketimbang kuratif. Ia menyebut revitalisasi tanggul Sungai di Mojokerto yang sudah lama diajukan ke Kementerian PUPR sebagai contoh pentingnya tindakan pencegahan.
“Kalau preventif memang anggaran lebih besar, tapi jauh lebih bermanfaat. Kalau kuratif, risikonya bisa sampai korban jiwa, dan itu tidak tergantikan. Rumah bisa dibangun lagi, tapi nyawa tidak. Apalagi recovery psikologis, terutama bagi anak-anak, itu bukan hal yang mudah,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga mengajak media berperan menjaga suasana kondusif di Kota Mojokerto, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
“Mari kita jaga kota ini tetap aman dan damai. Jangan ada berita yang justru memprovokasi. Kalau damai, meskipun kondisi ekonomi sedang kurang menyenangkan, kita bisa bergandengan tangan menghadapi bersama. Itu jauh lebih baik,” pungkasnya.(sya/lio)


