Kota Malang, blok-a.com – Semakin menyusutnya lahan pertanian di Kota Malang membuat Dispangtan harus bekerja ekstra untuk tetap mempertahankan produksi pertanian di Kota Malang. Menurut catatan yang diterima oleh blok-a.com, lahan pertanian yang ada di Kota Malang saat ini hanya tersisa sekitar 958 hektare.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan mengatakan saat ini lebih memfokuskan ketahanan pangan dibandingkan dengan swasembada pangan. Hal itu dikarenakan kurangnya lahan pertanian yang ada di Kota Malang.
“Kalau ngomong swasembada pangan di tingkat kota, mungkin terlalu berat. Karena memang realita kota itu lahan pertanian tidak seluas daerah kabupaten. Maka kita lebih fokus ke ketahanan pangan.” ujarnya.
Luas lahan sawah aktif di Kota Malang kini hanya sekitar 788 hektare dari total 958 hektare lahan baku. Dari luas itu, produksi gabah diperkirakan mencapai 15 ribu ton setiap tahunnya. Padahal, kebutuhan beras masyarakat Kota Malang mencapai 40 ribu ton setiap tahun.
“Artinya, selebihnya harus disuplai dari luar, seperti Kabupaten Malang, Kediri, dan Lumajang,” kata Slamet.
Ia menambahkan, lahan sawah yang tersisa hanya berada di empat kecamatan yang ada di Kota Malang. Yakni Kecamatan Lowokwaru, Sukun, Kedungkandang dan Blimbing.
“Di Klojen itu sudah nihil. Semua sudah jadi bangunan,” tuturnya.
Meski lahan makin terbatas, Dispangtan terus mendorong produktivitas melalui bantuan sarana produksi pertanian.
“Kita fasilitasi benih padi dan jagung setiap tahun, bantuan alat mesin pertanian seperti kultivator, racun tikus, sampai jaring pengaman bulir padi. Bantuan itu rata-rata kita berikan ke 2.000 sampai 3.000 petani aktif,” jelas Slamet.
Sebagian lahan di kawasan Lowokwaru, lanjutnya, masih digunakan untuk tanaman pangan seperti cabai dan tomat, meski pada saat panen sangat bergantung pada curah hujan.
“Yang di Lowokwaru itu sekitar 26 hektare, tapi lahannya tadah hujan. Irigasi belum ada karena kontur tanahnya perbukitan,” katanya.
Dispangtan juga mengimbau agar lahan sawah yang masih ada tetap difungsikan untuk tanaman padi.
“Kalau untuk fokus ketahanan pangan, ya lahan sawah jangan ditanami selain padi. Supaya hasilnya bisa tetap 15 ribu ton,” pungkasnya. (yog/bob)









