Banyuwangi, Blok-a.com – Gerakan sosial Aparatur Sipil Negara (ASN) Banyuwangi Berbagi kembali digulirkan. Program sosial yang yang sejak dua tahun digelar setiap bulan tersebut membagikan puluhan ribu paket sembako kepada keluarga miskin yang telah masuk dalam database kemiskinan.
Pada kegiatan kali ini, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama para ASN mendatangi rumah Bermawi (81), warga Lingkungan Wonosari, RT 02/RW 01, Kelurahan Sobo, salah satu keluarga pra sejahtera untuk menyalurkan bantuan paket sembako.
Bermawi hidup seorang diri. Istrinya telah meninggal dunia dan tidak memiliki anak. Ia juga tak memiliki rumah dan selama ini menumpang di rumah Ketua RT, Selamet. Sehari-hari, dia bekerja serabutan sebagai buruh tani dan membantu pekerjaan ringan warga sekitar demi menyambung hidup.
“Alhamdulillah, terima kasih ibu Bupati, bantuan ini sangat berarti bagi saya,” ucap Bermawi lirih, setelah menerima paket sembako.
Ipuk mengatakan, ASN Banyuwangi Berbagi merupakan gerakan sosial yang telah berjalan secara konsisten sejak dua tahun terakhir sebagai bentuk kepedulian bersama.
“Ini adalah gerakan rutin yang telah kita lakukan bersama-sama sejak 2024 lalu. Kami dorong ASN untuk terus melakukan aksi sosial, berbagi rejeki untuk meringankan beban ekonomi keluarga kurang mampu,” ucapnya.
Setiap ASN telah mendapatkan data warga miskin yang telah tertera di aplikasi Smart Kampung. Data tersebut merupakan data warga miskin yang masuk dalam desil 1 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos.
“Kami berharap lewat program yang kami lakukan secara berkelanjutan, serta ditambah dengan berbagai program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan lainnya akan semakin mengurangi penduduk miskin Banyuwangi secara signifikan,” harap Ipuk.

Tidak hanya melibatkan ASN saja, program ini juga mendapatkan banyak dukungan dari lintas sektor. Seperti kepolisian, TNI, BUMN, BUMD, para pengusaha hingga organisasi profesi di Banyuwangi.
“Program Banyuwangi Berbagi ini terbuka, kami mengajak dan memberikan kesempatan semua pihak bisa terlibat karena kami menyadari penanganan kemiskinan harus bersama-sama. Tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan harus melibatkan banyak pihak termasuk para ASN,” jelasnya.
Menurut Ipuk, sejak 2025 lalu program ini diikuti oleh banyak kalangan masyarakat. Diantaranya seperti organisasi HIPMI, Kadin, Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia Banyuwangi, hingga Ikatan Bidan Indonesia.
“Termasuk juga partisipasi dari rumah sakit swasta hingga pengusaha konstruksi,” imbuhnya.
Dengan berbagai program yang digulirkan Bupati Ipuk, angka kemiskinan Banyuwangi terus menurun setiap tahun. Tercatat 8,07 persen (2021), 7,51 persen (2022), 7,34 persen (2022), 6,8 persen (2024) dan mencapai angka terendah sepanjang sejarah daerah yakni 6,13 persen di tahun 2025.
Asisten Administrasi Umum Budi Santoso, menambahkan bahwa program ASN Banyuwangi melibatkan oleh PNS dan PPPK penuh waktu.
“Semua ASN Banyuwangi, kecuali PPPK Paruh Waktu tidak di libatkan dalam program ini. Semakin tinggi jabatan ASN maka semakin banyak sembako yang akan disalurkan. Sehingga di program ini sembako yang terkumpul lebih dari jumlah sasaran yang dijangkau,” papar Budi.
Program ini sekaligus bentuk “ground check” para warga miskin yang ada di database kemiskinan. ASN secara tidak langsung akan ikut memantau warga yang menajadi sasarannya.
“ASN kami minta juga untuk melihat kondisi sasaran warganya. Apakah sudah dapat bantuan rutin dari pemerintah, apakah ada keluarga yang sakit untuk perlu segera ditangani. Semua dilaporkan di aplikasi Smart Kampung,” tutupnya. (kur/gni)










Balas
Lihat komentar