Efisiensi Subsidi, Bupati Jember Tiadakan Seremoni Pendopo

Bupati Jember Gus Fawait saat menemui wartawan (foto: ist)
Bupati Jember Gus Fawait saat menemui wartawan (foto: ist)

Jember, Blok-a.com – Di tengah bayang-bayang fluktuasi harga komoditas energi dunia, Bupati Jember Gus Fawait memilih merayakan Idulfitri 1447 H dengan cara sederhana.

Ia memutuskan langkah yang jarang dilakukan oleh kepala daerah. Yakmi, menutup pintu Pendopo Wahyawibawagraha dari kegiatan open house resmi. Guna menghemat anggaran daerah dan mendukung gerakan efisiensi energi nasional.

Keputusan ini diambil setelah melakukan analisis mendalam terhadap seruan Presiden mengenai perlunya penghematan di tengah situasi geopolitik global yang tidak stabil. Gus Fawait menilai bahwa efisiensi harus dimulai dari pucuk pimpinan.

Dengan meniadakan jamuan besar di pendopo, Pemkab Jember berhasil memangkas banyak biaya. Termasuk katering dan dekorasi, hingga penggunaan energi listrik dan transportasi yang biasanya melonjak tersebut acara tersebut berlangsung.

“Tahun ini kita kembali ke nilai-nilai kesederhanaan. Niat utamanya adalah membantu pemerintah pusat mengendalikan konsumsi energi agar subsidi tidak terus melambung. Meskipun tidak ada acara formal di pendopo, silaturahmi tetap berjalan. Saya membuka diri bagi masyarakat dan kader yang ingin berkunjung ke pondok pesantren dengan jamuan apa adanya,” tutur Gus Fawait dengan nada rendah hati.

Langkah ini juga diikuti dengan inovasi budaya kerja baru di lingkungan Pemkab Jember. Bupati telah memerintahkan BKPSDM untuk segera merampungkan draf aturan kerja jarak jauh atau WFH.

Langkah ini dinilai sangat strategis untuk mengurangi mobilitas kendaraan dinas yang menggunakan BBM subsidi maupun non-subsidi, sehingga berdampak langsung pada penghematan anggaran operasional dinas.

Kebijakan WFH ini rencananya akan diterapkan secara bergilir. Gus Fawait menekankan bahwa transformasi digital yang telah dibangun Pemkab Jember memungkinkan pelayanan publik dilakukan secara daring.

Ia memberikan instruksi tegas bahwa tidak boleh ada satu pun layanan masyarakat yang terhambat karena kebijakan penghematan ini.

Baginya, efisiensi bukan berarti penurunan performa, melainkan optimasi sumber daya yang ada untuk hasil yang lebih maksimal.

Tokoh masyarakat dan pengamat kebijakan publik menyambut positif langkah ini sebagai bentuk empati pemimpin terhadap kondisi ekonomi bangsa.

Keberanian Gus Fawait dalam mengubah tradisi tahunan menjadi aksi nyata penghematan energi diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Apalagi dalam menghadapi tantangan ekonomi global di tahun 2026. (sir/rio/ova)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com