MALANG – Belakangan ini happy hypoxia tengah menjadi perbincangan publik. Kemunculannya bagaikan misteri dari infeksi virus Covid-19 yang selama ini dialami pasien.
Sebab, sejak kemunculan pandemi banyak orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan berbagai gejala. Namun, baru-baru ini silent hypoxemia atau happy hypoxia mulai banyak ditemukan pada pasien dengan infeksi virus Covid-19. Bahkan, tak sedikit yang menimbulkan kematian tanpa gejala. Lantas, apa itu happy hypoxia?
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif menjelaskan happy hypoxia merupakan penurunan kadar oksigen dalam darah yang tidak disertai dengan keluhan atau gejala yang dirasakan oleh pasien.
Padahal dalam kasus Covid-19, pasien memiliki variasi kategori, dari yang tidak bergejala, ringan, sedang sampai berat, hingga kritis. Umumnya, pasien Covid-19 memiliki gejala pneumonia atau radang paru.
“Dilihat dari kosa kata, happy itu bahagia hypoxia itu kekurangan oksigen. Ini salah satu manifestasi dari Covid-19, karena orang merasa tidak ada gejala,” jelasnya.
Husnul menambahkan, penderita happy hypoxia tidak akan memunculkan keluhan apapun. Pasien tetap beraktivitas biasa sebagaimana mestinya, namun secara tiba-tiba kebutuhan oksigen dalam tubuh terhambat.
Kurangnya kebutuhan oksigen di dalam tubuh inilah yang bisa dikatakan karena adanya paparan virus dari Covid-19 yang masuk.
“Orang merasa tidak ada keluhan, sehingga begitu aktifitasnya seperti biasa kebutuhan oksigen mendadak menjadi terhambat. Itu yang menjadikan hipoxia-nya mana kala aktivitas-aktivitas seperti biasa. Nah, tidak tersuply-nya oksigen ini salah satunya memang karena dari paparan virus Covid-19,” imbuhnya.
Meski di Kota Malang belum ditemukan kasus happy hypoxia, namun dalam hal ini masyarakat tetap diimbau untuk waspada dalam setiap aktivitas.
Mengingat, penderita happy hypoxia itu sendiri adalah seorang dengan kondisi yang sehat. Namun, bisa membahayakan ketika membawa penularan virus kepada yang lainnya.
“Sejauh ini belum ada (kasus happy hypoxia di Kota Malang). Ya, semoga tidak terjadi karena mobilitas warga Kota Malang juga tinggi. Makannya kita semua juga harus waspada karena kita 100 persen terhindar atau tidak terpapar Covid-19 juga belum tahu,” tandasnya.




