Kota Malang, blok-a.com – Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang identik dengan banjir saat hujan. Ternyata, masalah banjir bukan masalah baru yang dihadapi oleh warga sekitar, namun sudah masalah lama yang menimpa mereka sejak dulu, bahkan saat mereka masih kecil.
Hal ini diutarakan oleh Sugiyono alias Sugik, warga Jatimulyo yang berprofesi sebagai tukang tambal ban. “Kalau sepanjang Jalan Soekarno-Hatta ini dulu kan bekas lahan kosong atau sawah-sawah. Dari tahun 90an memang ada titik banjir, tapi kalau yang baru itu ya di depan RSUB,” tuturnya.
Kesaksian lain datang dari Eko Pramono, salah satu warga Jatimulyo yang saat ini berprofesi sebagai tukang parkir mengatakan bahwa sejak ia kecil sepanjang Jalan Soekarno Hatta memang ada beberapa titik banjir. “Dulu sejak masih banyak lahan kosong, belum seramai sekarang, sudah banjir jalannya,” terangnya saat diwawancara oleh Blok-A.com.
Eko menerangkan, kontur jalan di wilayah tersebut memang naik turun, sehingga menjadi titik berkumpulnya air hujan dan luberan dari beberapa saluran. “Jadi kan jalannya naik turun ini, jadi ada tempat-tempat cekungan. Di situ biasanya air menggenang,” katanya.
“Contohnya di depan Pizza Hut itu, jalannya cekung dari arah jalan besar sama Jalan Pisang Kipas kan sama-sama menurun,” tambahnya. Ia pun mengatakan sering kali menyaksikan kendaraan-kendaraan yang mogok karena menembus banjir di cekungan depan wilayah itu.
Kata Eko, pembangunan di wilayah sekitar jalan Soekarno-Hatta memang sempat berpengaruh terhadap timbulnya genangan air. Namun, dengan adanya pengimbangan dari pembangunan gorong-gorong saluran air, akhirnya masalah tersebut sedikit teratasi.
Dalam hal ini, yang dimaksud dengan teratasi bukannya menghilangkan titik genangan air. Namun ‘cukup’ dengan titik-titik genangan air tersebut surut ‘tepat waktu’.
Hal serupa diutarakan oleh Sugik. “Ada dampaknya, jadi air hujan kalau deras itu memang banjir. Tapi selesai hujan menyurut,” tuturnya.
Terkait hal tersebut, dengan adanya wacana perbaikan gorong-gorong di Jalan Soekarno-Hatta yang menjadi rencana Pemprov Jatim untuk menanggulangi banjir, kedua narasumber sepakat bahwa masalah yang dihadapi bukan hanya soal gorong-gorong yang tersumbat.
“Telat mas, dari dulu wacana-wacana saja. Paling yang wilayah jalan cekung masih saja timbul banjir. Iya kalau tidak tersumbat, kalau tersumbat? Iya kan,” tutur Sugik diiringi tawanya.
Sementara itu, Eko berharap ada juga Solusi dari pemerintah untuk penghilangan titik cekungan jalan. “Kalau gorong-gorongnya ternyata lebih tinggi dari cekungan, kan tetap mampir (air hujannya),” katanya. (mg3/bob)









