BLOK-A – Alat pulse oximeter yang berguna untuk mengukur saturasi oksigen kini tengah menjadi perbincangan usai pasien dengan gejala Covid-19 yang unik atau disebut dengan happy hypoxia disarankan memiliki perangkat ini.
Gejala happy hypoxia sendiri merupakan kondisi dimana pasien tampak normal, tidak menderita batuk atau demam, tetapi saturasi oksigennya terus turun. Jika tidak segera ditangani, pasien dengan gejala happy hypoxia itu bisa mengalami kematian.
Oximeter merupakan perangkat berukuran kecil yang dijepitkan ke jari, untuk mengukur denyut nadi dan persentase oksigen di dalam darah kita.
Menurut British Lung Foundation, tingkat saturasi oksigen normal di dalam darah pada orang yang sehat sekitar 95-100 persen.
Jika tingkat saturasi oksigen seseorang berada di bawah 95-100 persen, maka ada indikasi orang tersebut memiliki masalah paru-paru.
Tingkat saturasi di bawah 92 persen atau 88 persen bagi orang dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) menunjukkan jika ia menderita sakit parah dan membutuhkan oksigen tambahan.
Pulse oximeter adalah perangkat medis umum yang telah digunakan sejak tahun 1970-an.
Umumnya, perangkat ini dipakai oleh orang-orang dengan masalah pernapasan, serta atlet dan pilot yang perlu memantau kadar oksigen di dalam darah.
Meski terdengar praktis, pulse oximeter harus digunakan dengan benar. Jika tidak, perangkat itu akan menunjukkan angka yang tidak akurat, dan tidak bisa diandalkan tanpa diagnosis lebih lanjut dari ahli di bidang medis.
Walau dapat mengukur kadar oksigen di dalam darah seseorang, namun pulse oximeter tidak bisa mendiagnosis Covid-19 pada seseorang.
Londonwide LMC, komite perwakilan National Health Service (NHS) General Practice di London, Inggris menyebutkan, hasil yang ditunjukkan pulse oximeter bisa dijadikan pertimbangan klinis, namun tidak menentukan hasil klinis secara mutlak.
Dalam beberapa kasus, dokter akan menggunakan pulse oximeter dan meminta pasien Covid-19 pulang ke rumah jika mereka memiliki gejala terkait Covid-19 namun kondisinya belum perlu dirawat di rumah sakit.
Dr Andy Whittamore, kepala klinis Asthma UK dan British Lung Foundation, menyebut penggunaan pulse oximeter untuk mendiagnosis Covid-19 masih diteliti.
“Apa pun pemeriksaan yang dilakukan di rumah harus menjadi bagian dari perencanaan yang jelas, dan tidak menggantikan keputusan klinis,” kata Dr. Whittamore, seperti dilansir dari Houston Methodist, Selasa (8/9).
Permintaan pulse oximeter meningkat sejak pandemi Covid-19, sehingga kita perlu waspada terhadap pulse oximeter yang dijual dengan harga tinggi atau tidak memiliki sertifikat keamanan di internet.




