Usai Empat Bulan Terpuruk, Petani Mawar di Kota Batu Kembali Raup Rejeki

Petani Mawar
Petani Mawar - Foto : Istimewa

KOTA BATU – Perekonomian di Kota Batu kembali bergeliat. Tak terkecuali pertanian bunga mawar. Setelah hampir empat bulan terpuruk akibat pandemi Covid-19, .

Salah satu petani mawar di Kota Batu, Nur Azis mengatakan, selama pandemi banyak petani mawar yang merugi. Bahkan tidak jarang mawar-mawar yang telah di panen diobral ke masyarakat hingga dibuang begitu saja.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai bisa kirim lagi ke luar daerah. Karena sebelumnya seluruh hotel, tempat wisata dan berbagai kegiatan seperti nikah harus berhenti total. Sehingga petani tidak bisa menjual mawar miliknya,” ujarnya kepada Blok-A, Jum’at (4/9).

Selain itu, akibat pandemi Covid-19 membuat segala kegiatan harus terhenti. Akibatnya, Kota Batu yang banyak sentra pertanian khususnya bunga mawar harus terpuruk.

“Kurang lebih sekitar empat bulan kemarin pertanian mawar harus terhenti sehingga banyak bunga potong khususnya mawar yang harus terbuang sia-sia,” jelasnya.

Petani mawar asal Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini juga menceritakan, di lahan seluas 1,5 hektar miliknya ini dalam seminggu bisa panen hingga tiga kali. Untuk sekali panen bisa mengirim 9-10 ribu tangkai mawar dengan satu tangkainya dihargai Rp 750 ribu – Rp 1500 ribu.

“Alhamdulillah bisa kembali melakukan aktivitas perawatan hingga memasarkan kembali ke luar kota. Seperti di beberapa kota besar Jakarta, Surabaya, Bandung hingga Bali,” pungkasnya.

Exit mobile version