Pacitan, blok-a.com – Segurat senyum Wijiati, warga di RT 003, RW 004, Dusun Banyuanget, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mewarnai Selasa (16/1/2024) siang yang dibalut hujan.
Bibir perempuan 80 tahun itu makin merekah, ketika menerima kunci rumah baru, yang dibangun melalui Corporate Social Responsbility (CSR) dari PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Pacitan.
Rasa haru dan bahagia berkecamuk jadi satu di dalam benak wanita yang kini tinggal seorang diri, tanpa suami dan anak. Namun demikian, lisannya tidak berhenti untuk mengucap syukur atas apa yang dimiliki sekarang.
“Alhamdulillah. Terima kasih banyak. Matur suwun, sudah dibangunkan rumah sama PLTU (PT PLN Nusantara Power UP Pacitan),” ucap Wijiati, usai menerima kunci, Rabu (17/01/2024) sore.
Wijiati, merupakan salah satu korban yang rumahnya terdampak gempa Bantul, Yogyakarta pada tahun lalu.
Separuh rumahnya dilaporkan rusak berat. Dindingnya roboh dan tidak bisa ditempati, sehingga memaksa dia harus tinggal di rumah saudaranya untuk sementara.
Berjalannya waktu, kabar dampak bencana itu terdengar oleh PT PLN Nusantara Power UP Pacitan.
Beberapa koordinasi mulai dari pemerintah desa, kecamatan hingga pemkab setempat telah dilakukan, hingga akhirnya Wijiati dapat bantuan rumah baru.
Namanya rumah FABA (Fly Ash and Bottom Ash), atau abu sisa pembakaran batu bara untuk konstruksi pembangunannya. Rumah itu memiliki luas bangunan 24 meter persegi, dengan total pemanfaatan FABA 40 Ton.
Kini, rumah itu sudah ditempati. Pun secara resmi sudah diserahkan, yang ditandai dengan pemotongan tumpeng serta penyerahan kunci.
“Ini tanggung jawab sosial ya, selaku kami PLN Nusantara Power yang ada di Pacitan,” ujar Dwi Juli Harsono, Senior Manager UP Pacitan, usai peresmian rumah FABA.
Menurut dia, rumah tersebut adalah yang keempat dibangun oleh PT PLN Nusantara Power UP Pacitan, di kota dengan sebutan lain 1001 gua.
“Ini (rumah FABA) yang keempat. Rumah Ibu Wijiati yang kita bantu ini, adalah korban dampak bencana gempa Bantul. Dan baru hari ini kita resmikan,” katanya.
Manfaat FABA
Perihal rumah FABA, ungkap Dwi, tidak sedikit manfaat yang telah dipetik. FABA, kata dia, tidak hanya untuk kontruksi bangunan saja, tapi sudah bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
“FABA ini sifatnya seperti semen. Jadi ini kita sudah produksi paving, batako, dan apa pun infrastruktur yang memakai cor jalan, sudah kita jalankan,” terangnya.
“FABA ini banyak manfaatnya, selain untuk bangunan-bangunan juga bisa untuk pupuk,” lanjutnya.
Beberapa di antaranya yang sudah dibangun dengan memanfaatkan FABA yakni mulai pembangunan kios-kios, rabat jalan desa hingga rumah di wilayah Kecamatan Sudimoro. Termasuk rumah Wijiati, yang baru saja diresmikan.
“FABA ini sudah uji lab, baik untuk pupuk hingga batakonya. Sudah komplit. Sangat-sangat aman,” imbuhnya.
Pemasangan Listrik Rumah FABA Kolaborasi dengan PLN ULP Pacitan
Listrik yang dipasang di rumah yang ditempati Wijiati tersebut memiliki daya 900 watt. Sehingga, dengan daya tersebut akan memakan biaya yang tidak sedikit di setiap bulannya.
Bagi Wijiati, biaya tersebut tentu dirasa mahal. Terlebih, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja, ia hanya mengandalkan uluran tangan, baik dari warga sekitar maupun bantuan dari pemerintah.
“Kita selalu kolaborasi dan komunikasi dengan PLN Pacitan, apakah (daya) bisa diturunkan. Tapi saya yakin bisa, supaya Ibu Wijiati ini pembayarannya ringan,” ucap Dwi.
Menanggapi hal tersebut, Manager PLN ULP Pacitan, Aditya Bimantara menjelaskan bahwa, yang bersangkutan datanya sudah masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kementerian Sosial.
Sehingga, ungkap dia, hal tersebut memudahkan untuk menurunkan daya, dari umum ke subsidi.
“Pelanggan-pelanggan kami yang datanya masuk DTKS, biasanya koordinasi dengan dinas sosial. Kalau memang bisa, nanti dikasihkan tarif subsidi. Jadi dari tarif umum ke subsidi, dayanya 900-450 watt,” terang Adit, di tempat yang sama.
“Terkait dengan daya 900 watt ini, kalau dari Ibu Wijiati mungkin keberatan, kita bisa turunkan ke 450 watt dengan tarif subsidi,” tukasnya. (git/lio)




