Terbentuknya Kawasan Pecinan di Kota Malang Gegara Aturan Belanda

Gapura Pecinan Kota Malang (blok-A.com/Syams Shobahizzaman)

Kota Malang, blok-A.com – Di sejumlah daerah Kota Malang, terdapat kawasan unik yang dihuni oleh masyarakat China atau Tionghoa, juga karakter unik yang dimilikinya. Semua itu berkumpu di Pecinan Kota Malang.

Biasanya, mereka membuat sebuah konsentrasi di suatu wilayah tertentu, di sebuah kota atau daerah. Pemusatan itu disebut dengan Pecinan. Jika diluar negeri, mereka menyebutnya dengan kata China Town. Di Kota Malang Pecinan itu terletak di Jl. Zainul Arifin dan juga Jalan Pasar Besar Kota Malang.

Pengamat Budaya, Agung Buana menjelaskan bagaimana masyarakat China tersebut, bermukim dan membuat kampung yang bernama pecinan. Agung memulai dari sejarah kedatangan mereka ke Nusantara.

Sejarah Singkat Kedatangan Masyarakat China ke Nusantara

Diawali dengan adanya pemikiran, masyarakat Tionghoa melakukan perantuan untuk mencari sumber kehidupan, ke daerah selatan sampai ke Nusantara. Alasan yang memperkuatnya dalam merantau, ialah karena kehidupan yang sudah mulai terbatas.

Ia mulai berdagang ke negeri-negeri yang jauh, hingga sampai ke Nusantara. Hanya bermodalkan keramik, sutra, ataupun barang lain yang dimilikinya, menukarkan barang mereka dengan rempah-rempah atau produk pertanian di Nusantara.

Melihat peluang kehidupan, kedatangan China mulai bergelombang, hingga datangnya pelayaran yang selama ini kita kenal dengan Cheng Ho. Tidak hanya sebagai seorang pedagang, tapi juga orang biasa yang sedang mencari kehidupan.

Puncaknya, terjadi sebuah peristiwa geger pecinan di Batavia tahun 1700-an. Hal itu mengakibatkan masyarakat Tionghoa tersisih, hingga terjadi akulturasi antara budaya Jawa dan China.

Di era 1800-an, tepatnya saat kolonial Belanda mengambil alih pemerintahan, mereka membuat aturan baru untuk membagi masyarakat berdasarkan rasnya. Ini yang mengakibatkan terbuatnya Kampung Pecinan, Arab, Jawa, dan lain-lain.

Terbentuknya Kampung Pecinan Di Daerah Kota Malang

Setelah menguraikan sejarah singkatnya, Agung menjelaskan lebih detail terkait terbentuknya Kampung Pecinan di Kota Malang.

“Berkat politik Belanda saat itu, masyarakat China mulai terpusat di suatu wilayah, salah satunya Kota Malang,” tutur Agung.

Kampung Pecinan muncul di wilayah Klojen bagian tengah ke selatan hingga di daerah Pasar Besar. Itu ditandai dengan adanya Klenteng, tempat berdagang, sekolah dan lain lain.

Agung mengatakan bahwa masyarakat China itu, sangat suka sekali dengan berdagang.

“Mereka lebih suka berdagang, dan yang paling utama ya mendekati pusat perdagangan seperti sebuah lasar. Mereka bermukim disitu,” ujarnya.

“Masyarakat tersebut sering memberikan kontak langsung dengan kampung-kampung lain, seperti Kampung Arab, sebelah barat Pasar Besar,” tambahnya.

Di era 90-an, Pasar Besar berdiri permanen sejak tahun 1920. Pembagian blok masyarakat Pecinan, juga dilakukan dekat dengan pasar besar itu sendiri. Banyak suku China yang tinggal di Malang diantaranya suku haka, hokyan, dan lain lain.

Mereka bermukim berdasarkan usahanya masing-masing. Sejak menempati Pasar Besar, mereka mencari cara agar ekonomi mereka tumbuh subur disana. Salah satu caranya dengan membangun ruka dan rumah, yang bersatu dengan dagangannya.

Selain berdagang di pasar besar, mereka juga berjualan di area Kayoetangan dan membangun toko-toko untuk memajukan ekonominya. Setelah kemerdekaan, mereka mulai memisahkan tempat tinggal dan tempat berdagangnya.
(mg1/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.