KOTA BATU – Sektor pertanian Kota Batu tak luput terkena imbas pandemi covid-19. Bahkan harga hasil dari pertanian sempat merosot. Untuk mengantisipasi kerugian, para petani memilih untuk berkolaborasi dengan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi di Kota Batu.
Dengan harapan, Kelompok tani (Poktan) dan gabungan Kelompok tani (Gapoktan) di Kota Batu tetap bisa bertahan dan tidak semakin merugi.
“Supaya tetap bertahan di tengah pandemi covid-19, memang sudah seharusnya poktan dan gapoktan juga turut memanfaatkan jaringan digitalisasi teknologi,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pengolahan dan Pemasaran Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kota Batu Tri Agus Abdi Sholeh, Senin (12/10)
Tri menambahkan, saat pandemi memang petani sulit mendistribusikan hasil panen. Namun, akan tetap bertahan dengan cara membuat hasil panen tersebut menjadi olahan.
“Contohnya seperti hasil pertanian wortel yang banyak dihasilkan di Kecamatan Bumiaji. Karena harganya turun dan produksi berkurang, sehingga diolah menjadi keripik,” ucapnya.
Selain itu dengan dikolaborasikan UMKM dan koperasi bisa menjadi win-win solution. Sehingga pertanian di Kota Batu bisa tetap eksis ditengah pandemi dengan memanfaatkan peluang informasi dan jaringan.
“Petani ini menjadi produsennya, sedangkan pelaku UMKM menjadi pendistribusi dan yang memasarkan. Beberapa poktan sudah bekerja sama dengan koperasi,” ucap Tri.
Sementara di masa new normal ini, tanaman hortikultura seperti sayuran kentang, kubis, wortel, dan brokoli kini mulai cenderung normal. “Harganya dari beberapa minggu lalu di tingkat petani tidak terjadi kenaikan atau penurunan secara signifikan,” tutupnya.




