Surabaya, blok-a.com – Puncak perayaan Natal Nasional 2023 akan dipusatkan di Graha Bethany Nginden Surabaya pada Rabu, 27 Desember 2023 mulai pukul 17.00-20.00 WIB.
Dilansir situs resmi Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI, tema Natal Nasional 2023 di Surabaya adalah “Kemuliaan Bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi (Lukas 2:14)”.
Presiden Joko Widodo, para Menteri, Duta Besar Negara Sahabat, Perwakilan Lintas Agama, Perwakilan Kelompok Masyarakat dijadwalkan hadir dalam perayaan Natal Nasional di Gereja Bethany Surabaya.
Berikut sejarah berdirinya Gereja Bethany yang jadi venue puncak perayaan Natal Nasional 2023, yang dirangkum dari situs Bethany:
Gereja Bethany mulai berdiri pada tahun 1977 dengan pertemuan doa yang dipimpin oleh Pendeta Abraham Alex Tanuseputra. Persekutuan Doa Bethany awalnya dihadiri 7 sampai 10 orang.
Pertemuan yang berlangsung di halaman parkir rumah Jalan Manyar Sindharu (sekarang Manyar Rejo) II/4 Surabaya ini semakin hari semakin berkembang.
Oleh karena itu, pada tahun 1978 “Persekutuan Doa Bethany” menjadi gereja dengan 200 umat paroki di bawah naungan Sinode GBI (Gereja Bethel Indonesia).
Bertepatan dengan hal itu, dibangun rumah Manyar Sindharu I/29 Surabaya, yang dikenal dengan sebutan “Gedung Doa”. Jemaatnya semakin berkembang. Sejak tahun 1980 hingga 1982, jumlah jemaah mencapai 1000 orang.
Gereja Bethany bergabung dengan gerakan karismatik dan memelopori pelayanan “pujian dan penyembahan”. Seiring bertambahnya jemaat, gereja pun membeli tanah di Manyar Sindharu I/33 Surabaya. Sebuah “awning” untuk tempat ibadah dibangun di tempat ini.
Pada tahun 1985, Gereja Bethany diberkahi dengan lahan yang cukup luas yang terletak di sebelah bangunan “awning” tempat Gereja Bethany Manyar kini berdiri, tepatnya di Manyar Rejo II/36-38. Saat itu, dibangun gedung gereja yang mampu menampung 3.500 orang.
Gereja Bethany yang saat itu berkedudukan di Manyar Rejo mulai membuka beberapa cabang baik di dalam Surabaya maupun di luar kota Surabaya.
Pada tahun 1986, Gereja Bethany Manyar selesai dibangun dan diresmikan langsung oleh Walikota Surabaya yang menjabat pada waktu itu, dr. Purnomo Kasidi.
Sejak saat itu, gedung Bethany Manyar digunakan sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan Gereja Bethany.
Tahun 1986, seiring bertambahnya jumlah jemaat, Pendeta Abraham Alex Tanuseputra mendorong jemaat untuk membangun kapel yang lebih besar. Usai berdoa, ia membeli sekitar 6,8 hektar tanah di distrik Nginden. Kemudian dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Bethany Nginden.
Tahun 1993. Atas karunia Tuhan, Gereja Bethany bisa melanjutkan pembangunan gedung baru, yang mana pematokan tiang pancang pembangunan gereja Bethany Nginden, dilakukan oleh Walikota Surabaya saat itu, dr. Punomo Kasidi. Jemaat mulai menabur, sehingga 2600 tiang pancang terpenuhi.
Pada 1995, ketika jemaat Bethany mencapai usia 17 tahun, ladang pelayanan kian meluas. Pelayanan Gereja dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu wilayah barat (DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera dan Kalimatan Barat), wilayah tengah (Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogjakarta, Kalimatan Timur, Kalimantan Tengah, dan selatan), dan wilayah timur (Bali, Nusat Tenggara Timur, Timor-Timor, Maluku dan Irian jaya (sekarang Papua). Dari ketiga wilayah itu terdapat 60 cabang Gereja Bethany.
Tahun 1996, di ulang tahun yang ke-18, gereja Bethany memiliki 100 Cabang, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Tahun 1997, jemaat terus berkembang menjadi 254 cabang. Pada tahun 1998, Tuaian jiwa terus bertambah-tambah, sehingga pada ulang tahun yang ke 20 jemaat berkembang menjadi 479 Cabang.
Kemudian pada tahun 1999-2001 Gereja Bethany berkembang hingga menjadi 1000 cabang. Sebagian besar telah menjadi Gereja Lokal yang mandiri. Walau telah otonom, kesemuanya masih mengikatkan diri dalam visi “Successful Bethany Families.”
Pada tahun 1997, Sinode GBI mengeluarkan arahan baru yang mewajibkan setiap gereja lokal di GBI untuk meninggalkan nama jemaat lokalnya. Cukup masukkan nama GBI beserta nama jalan yang sesuai dengan alamat gereja. Hal ini ditegaskan dalam keputusan Sinode GBI tahun 2000.
Gereja Bethany yang saat itu dalam wadah Sinode GBI terbagi ke dalam tiga wilayah pelayanan yaitu wilayah barat (Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo), wilayah tengah (Pdt. Abraham Alex Tanuseputra) dan wilayah timur (Pdt.Ir. Timotius Arifin).
Untuk wilayah barat dan timur menyetujui keputusan tersebut, dan menurunkan nama jemaat Bethany menjadi GBI saja disertai nama jalan, termasuk menurunkan tagline Bethany yaitu “Successful Bethany Families”.
Pada akhirnya diberi nama Sinode Gereja Bethany Indonesia. Yang mana pada tanggal 11 Desember 2002 Sinode Gereja Bethany bediri, dengan akta Nomor 2 di Notaris Winarko, SH dan telah didaftarkan pada Kantor Wilayah Provinsi Jawa Timur Departemen Agama RI, tanggal 15 Januari 2003, No: Wm.07.02/BA.01.1/103/2003. Serta Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI, tanggal 17 Januari 2003, No: DJ.III/Kep/HK.00.5/5/158/2003. 17 Januari 2003, Sinode Gereja Bethany Indonesia pun resmi berdiri.
Walau sudah berdiri sebagai sinode, namun belum memiliki kepengurusan maupun anggota selayaknya sebuah sinode gereja.
Pada Juli 2003, para pendiri Sinode Gereja Bethany Indonesia meminta Pdt. Abraham Alex Tanuseputra bergabung dengan Sinode Gereja Bethany Indonesia.
Di sela acara persekutuan bulanan Gereja Bethany tercetuslah suatu kesepakatan, bahwa seluruh pejabat (Pdt., Pdm., Pdp.) membubuhkan tanda tangan, menyatakan keluar dari Sinode Gereja Bethel Indonesia dan bergabung dengan Sinode Gereja Bethany Indonesia.
Puncaknya, tanggal 16 hingga 18 September 2003, digelar Sidang Raya pertama Sinode Gereja Bethany Indonesia di Graha Bethany Nginden – Surabaya.
Dalam acara tersebut dihasilkan sebuah keputusan membentuk Majelis Pekerja Sinode (MPS) masa pelayanan tahun 2003-2007 Dengan susunan kepengurusan sebagai berikut: Ketua Umum: Pdt.Abraham Alex Tanuseputra, Sekretaris Umum: Pdt. Zacharia Freddy Riva.
Dengan demikian alat kelengkapan sinode sebagai sebuah organisasi mulai terpenuhi. Pada Sidang Raya Sinode 23 Januari 2008 (sidang raya kedua) terpilih Majelis Pekerja Sinode (MPS) masa pelayanan 2008-2012 dengan susunan sebagai berikut: Ketua Umum: Pdt.Aswin Tanuseputra; Sekretaris Umum: Pdt.Ir. Sujarwo.
Sidang Raya ketiga MPS Gereja Bethany Indonesia, 27 Juli 2012 dengan pengurus baru, Ketua Umum: Pdt.Aswin Tanuseputra. Sekretaris Umum: Pdt.Ir. Sujarwo.
Gereja Bethany Indonesia akhirnya menerima proklamasi baru tertanggal 28 Juli 2020 nomor 295 dari Direktorat Jenderal Bimbingan Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia.(lio)










