BLOK-A – Melukis identik dengan aktivitas yang memadukan imajinasi dan kemampuan menggores kuas di tempat yang dimau. Kegiatan tersebut mayoritas dilakukan oleh mereka dengan tubuh yang sempura.
Namun, siapa sangka, ada seorang pelukis asli Malang yang melukis menggunakan kaki dan mulutnya. Ia adalah Sadikin Pard.
Pria kelahiran 29 Oktober 1966 itu memang terlahir tanpa tangan. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi halangan untuk tetap berkarya. Alhasil, Sadikin nelukis memakai kaki.
“Orang tua saya tidak merasa minder dengan kondisi saya. Mereka mendukung keinginan saya untuk terjun di bidang melukis dan sering diceritakan ke teman-temannya,” kata Sadikin. Ia berhasil ditemui di sela pembuatan video ABM Inside yang dilaksanakan di Shalimar Boutique Malang, 19 Januari 2021.
Kemampuan menggambar sudah diasah sejak TK. Dari sanalah skill melukisnya dipertajam seiring dengan bertambahnya usia. Kini, ia mampu menyelesaikan lukisan dalam waktu dua jam dengan menggunakan kaki. Tentu saja dengan tingkat kesulitan yang ringan.
“Tidak ada darah seni di keluarga saya. Maka dari itu, melukis saya anggap sehagai anugerah dari Tuhan. Semuanya dipelajari secara otodidak,” lanjut pria yang suka memakai aksesoris di kepalanya itu.
Sadikin juga membuka komisi bagi siapa saja yang ingin memiliki karyanya. Tidak ada patokan harga khusus. Ia bahkan pernah memberikan lukisan kakinya secara cuma-cuma. Ada juga yang membelinya dengan harga tinggi.
“Dulu pernah ada yang membeli dengan harga Rp50 ribu saja. Tapi setelah itu, ada seorang kolektor yang mendatangi saya dan membeli karya yang lain dengan harga terbilang tinggi. Berapapun banderolnya, saya selalu terbuka untuk mendiskusikan terlebih dahulu. Memang saya pernah memberi harga murah. Tapi setelah itu, datang rejeki lain berupa karya saya dihargai mahal,” ceritanya.
Terkait harga, Sadikin tak pernah punya patokan. Kedatangan orang yang menawar adalah bentuk apresiasi tinggi atas lukisan karyanya. Harga pun bisa didiskusikan lebih lanjut sesuai dengan kesepakatan bersama.
Ia kini masih aktif menulis. Termasuk pula mengirim karya ke Association of Mouth and Foot Painting Artits (AMFPA) 15 kali dalam setahun.
Saat ditanya sampai kapan melukis, ia pun tidak tahu. Melukis adalah aktivitas yang ia sukai sekaligus sebagai bentuk ekspresi diri.
“Jika saya bisa, harusnya mereka di luar sana juga bisa. Yang penting ada kemauan dan niat dari dalam diri,” tutup Sadikin.




