MALANG – Yayasan Unisversitas Islam Malang (Unisma) sebagai penanggungjawab pembangunan Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma memutuskan menghentikan sementara pembangunan gedung.
Hal ini menyusul ambruknya lift yang digunakan pekerja proyek dan menewaskan empat orang pekerja dan enam lainnya luka-luka pada Selasa (8/9).
Sekretaris Yayasan Unisma Malang Mustangin menyebut, pada dasarnya wewenang pembangunan sudah diberikan yayasan kepada pihak ketiga pemborong pembangunan (rekanan) atau dalam hal ini PT Dwi Ponggo Seto.
Namun, Unisma akhirnya memutuskan menunda dulu pembangunan pasca insiden berdarah terjadi. “Pembangunan akan terus berjalan. Namun untuk beberapa hari ini, kami istirahat dulu. Sambil menunggu perkembangan selanjutnya,” urai Mustangin.
Yayasan sebelumnya sudah melimpahkan pekerjaan tersebut seratus persen kepada rekanan lewat perjanjian kerjasama. “Seluruh pekerjaan dan tanggungjawab, sudah diserahkan ke pelaksana proyek,” tambahnya.
Mustangin berujar, sebelumnya pihak kontraktor tersebut sudah bekerjasama dengan Yayasan Unisma. Dimana sebelumnya, PT yang berbasis di Kabupaten Ponorogo itu terlibat dalam pembangunan Gedung Pascasarjana Unisma.
“Proyek pembangunan rumah sakit ini merupakan yang kedua. Rencananya mau dibangun sampai lantai sembilan, namun ini baru selesai sampai lantai enam. Kerjasamanya dilakukan per tahun (akan diperpanjang sesuai dengan kebutuhan),” tandasnya.
Pengerjaan proyek ini untuk bangunan penambahan bangsal rawat inap RSI Unisma. Lokasinya berada di belakang gedung utama. Daerahnya di dinoyo.
Diketahui hari ini Rabu (9/9) Tim Puslabfor Polda Jatim mendatangi lokasi kejadian sejak pukul 10.00 WIB untuk mengumpulkan keterangan lewat saksi dan mengecek lokasi.
Irit bicara kepada awak media, mereka juga lakukan olah TKP untuk identifikasi penyebab kecelakaan kerja yang menewaskan 4 orang pekerja dan menyebabkan 6 lainnya luka-luka itu.




