blok-a.com — Pernahkah kamu mendengar sebuah cerita pengorbanan seorang kakek tua yang nekat membelah gunung di desanya?
Aksinya dilakukan bukan dengan alasan untuk keuntungan pribadi, namun ia ingin memberi manfaat kepada masyarakat. Puluhan tahun ia habiskan untuk bekerja keras untuk menggali dan memecah batu di gunung dekat desanya.
Tidak hanya sebentar, tapi aksinya dilakukan selama 22 tahun dan dilakukannya seorang diri.
Kisah tersebut bukan fiksi, tapi benar-benar dialami oleh seorang kakek tua dari India bernama Dashrath Manjhi.
Ia tidak menyerah dengan cibiran orang. Walau banyak yang menyebutnya sudah gila. Setelah kerja kerasnya membuahkan hasil, tak disangka-sangka sosoknya jadi terkenal di seantero dunia.
Dashrath Manjhi selama hidupnya bekerja sebagai buruh di India. Ia tinggal di di Desa Gehlaur, distrik Gaya Muhra Tehsil,negara bagian Bihar. Ia hidup sangat sederhana bersama istri dan anaknya.
Desanya sangat terpencil, hingga listrik dan pasokan air bersih belum dapat dinikmati semua orang. Sistem kasta juga memperparah situasi hidup masyarakatnya.
Untuk pergi ke beberapa tempat seperti rumah sakit, pasar, dan tempat kerja harus lewat jalan yang jauh dan berbahaya.
Sebenarnya bisa lebih dekat jika ada jalan pintas melewati gunung, karena tempat-tempat umum terletak di balik gunung.
Medan tempuh yang ekstrem itu sangat dirasa berat bagi Falguni Devi, istri Dashrath Manjhi yang sedang hamil anak kedua.
Pasalnya, ladang yang digarap suaminya sangat jauh dan ia tiap hari sempoyongan mengantar makan siang ke ladang.
Suatu hari di tahu 1959 Falguni yang sedang hamil tua membawakan makan siang ke ladang. Ia harus mendaki gunung dalam cuaca panas terik. Tiba-tiba, kakinya terpeleset dan jatuh dari gunung.
Seseorang dari desa memberi tahu Manjhi bahwa istrinya jatuh dari gunung. Manjhi mendadak panik dan membawa istrinya yang berlumuran darah ke rumah sakit terdekat.
Tapi, rumah sakit terdekat harus ditempuh dalam jarak 70 km. Terlambat mendapat penanganan, Falguni dinyatakan meninggal setelah melahirkan seorang bayi perempuan.
Menjadi sangat terpukul, ia berpikir bagaimana caranya agar penduduk desa yang akan berobat tidak perlu mengalami hal yang sama seperti istrinya.
Ia lantas mengutuk gunung besar itu dan bersumpah untuk menghancurkannya.
Hanya bermodal palu, pahat, dan sekop, ia bekerja tanpa lelah membangun jalan dari desa ke rumah sakit.
Selama 22 tahun lamanya, orang-orang di sekitarnya tidak sedikit yang meremehkan dan menganggap aksinya tidak masuk akal.
Tapi ia dengan didasari tekad bulat untuk desanya dan tentunya kecintaan pada istri yang sudah tiada membuatnya tidak menyerah.
Sampai pada akhirnya jalan membelah gunung sepanjang 110 m, lebar 9,1 m, dan dalam 7,6 m berhasil terwujud dan bisa dilalui kendaraan
Tidak hanya ke rumah sakit, tapi warga desa juga lebih mudah untuk ke pasar, sekolah, dan desa tetangga. (mg1/bob)










Balas