KOTA BATU – Meskipun masih dalam masa pandemi covid-19 ternyata nilai investasi di Kota Batu mulai merangkak naik. Hal ini terlihat dari mulai adanya beberapa pengusaha yang berencana melakukan pengamanan modal di Kota Batu.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Iklim Penanaman Modal, DPMPTSP dan Naker Kota Batu, Bambang Supriyanto mengatakan, nilai investasi yang masuk ke Kota Batu pada triwulan pertama 2021 sudah mencapai sekitar Rp 230 miliar.
“Setiap tahunnya nilai investasi yang ditargetkan sebesar Rp 450 miliar. Dan di Triwulan pertama ini sudah mencapai 35 persen dari target yang telah ditetapkan,” jelasnya, Kamis (22/4).
Lebih lanjut Bambang menjelaskan untuk nilai investasi berasal dari dua kategori yakni Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) dan Non IUMK. Dengan rincian penyumbang nilai investasi terbanyak dari kategori IUMK yakni sektor perdagangan dan jasa sebanyak 49 persen. Lalu tanaman pangan sebesar 13 persen, penginapan dan tempat makan sejumlah 11 persen, industri makanan dan minuman sebesar 6 persen dan lainnya.
“Jadi dari IUMK yang sudah masuk data nilainya Rp 46,186 miliar dan pelaporannya setiap semester atau per 6 bulan sekali karena termasuk usaha kecil, contohnya guest house,” katanya.
Sedangkan di kategori Non IUMK perolehan yang didapat dari data yang telah masuk laporan senilai Rp 186 miliar. Dimana Non IUMK ini lebih banyak dari jenis usaha diatas Rp 500 juta. Sektor penyumbang terbesar yakni pariwisata terdiri dari perhotelan, tempat wisata, restoran hingga kafe.
“Mudah-mudahan ini trendnya positif terus disesuaikan dengan pelaporan realisasinya karena sektor ekonomi sedang dalam masa pemulihan,” imbuhnya.
Meskipun begitu Bambang menyayangkan jika nilai investasi yang masuk tidak diimbangi dengan pelaporan realisasi yang ada. Dimana di tahun 2019 tercatat jumlah nilai investasi masuk sebesar Rp 1,9 triliun tetapi laporan realisasi hanya sekitar Rp 177 miliar.
Lalu pada tahun 2020, jumlah nilai investasi yang masuk sekitar Rp 1,2 trilun dan laporan realisasinya terakhir pada Desember lalu hanya Rp 130 miliar.
“Untuk Triwulan pertama tahun 2021 ini masih belum terlihat pelaporan realisasinya karena biasanya baru ada laporan keseluruhan pada Triwulan kedua. Kami berharap bisa sesuai dengan laporan realisasi nya,” tandasnya.



