Penyumbang Gas Bumi Terbesar di Jawa Timur, Pulau Pagerungan Kecil Tetap Gelap Gulita

Tokoh Pemuda Pagerungan Kecil, And. Rahim

Sumenep, blok-a.com – Kota Sumenep sebagai Bekas Keraton yang dipimpin Adipati Aryawiraraja di Era Kerajaan Majapahit ternyata menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Terbukti, banyak titik sumur migas (minyak dan gas bumi) yang bisa dieksplorasi dan eksploitasi untuk kepentingan Negara dan Masyarakat.

Salah satunya sumur migas di Pulau Pagerungan, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Provinsi Jawa Timur. Di pulau kecil ini, berdiri perusahaan raksasa yang bergerak di sektor Migas bernama PT KEI Ltd. (Kangean Energy Indonesia). Pulau Pagerungan ada Desa Pagerungan Besar Ring I dan Desa Pagerungan Kecil Ring II.

Sejak melakukan pengeboran sumur gas bumi di Pagerungan Besar, perusahaan migas yakni PT KEI Ltd. dinilai oleh tokoh pemuda Pagerungan Kecil, Abd Rahim belum memberikan kontribusi besar bagi masyarakat kepulauan Pagerungan khususnya Pulau Pagerungan Kecil.

“Kekayaan alam dikeruk oleh perusahaan migas dari Bumi Pegerungan. Keuntungan miliaran tentu sudah didapat dari pulau kita. Tapi apa kontribusi perusahaan bagi masyarakat setempat. Lampu penerangan saja sangat minim. Hanya mengandalkan PLTS yang hanya mampu menyala sekitar 2 jam sehari semalam,” beber Rahim.

Awalnya, kata dia, sekitar 2016 lalu masyarakat menyuarakan perlunya aliran listrik di pulaunya ke Pemerintah Kabupaten Sumenep. Sebab selama puluhan tahun bahkan sejak PT KEI Ltd beroperasi, pulau ini masih krisis energi listrik. Satu-satunya pasokan energi listrik yang bertahan sampai saat ini disuplai oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang disupport pihak Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).

“Sebelumnya memang sudah difasilitasi oleh Pemerintah Daerah, PT KEI dan Pihak PT PLN. Kemudian pengadaan PLTD ditanggung bersama Pemkab Sumenep, PT KEI dan PT PLN, gak tahu pasti dana sharing pembelian PLTD itu berapa persen. Maka beroperasilah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) disana. Namun PLTD hanya bertahan 8 Tahun yakni 2016 – 2022,” terang Rahim.

Sejak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM beberapa waktu lalu, Kini masyarakat sudah tidak mampu lagi membiayai PLTD. Karena biaya BBM PLTD dibiayai hasil sumbangan masyarakat setempat. Maka saat ini, PLTD sudah macet atau tidak beroperasi lagi. Hanya mengandalkan PLTS.

“Berpuluh-puluh tahun Pulau Pagerungan Kecil gelap gulita. Padahal Pulau Pagerungan sebagai penghasil migas dan penyumbang gas bumi terbesar di Jawa Timur. Tapi apa yang diberikan Negara atau pemerintah pada masyarakat Pulau Pagerungan. Listrik saja memperihatinkan. Pulau kami gelap gulita,” katanya lirih. (Aldo/Gim)

Exit mobile version