Pedagang Pasar Besar Malang Tak Akan Satu Suara untuk Revitalisasi

Pasar Besar Malang nampak depan (blok-a/Widya Amalia)
Pasar Besar Malang nampak depan (blok-a/Widya Amalia)

Kota Malang, blok-a.com – Rencana revitalisasi Pasar Besar Malang hampir dipastikan batal terealisasi pada tahun 2025 ini. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyebut salah satu faktor batalnya ini disebabkan oleh paguyuban pedagang yang masih belum satu suara untuk setuju dengan revitalisasi ini.

Diketahui, Himpunan Pedagang Pasar Besar Malang (Hippama) menolak revitalisasi Pasar Besar Malang ini. Mereka lebih menyetujui bahwa Pasar Besar Malang hanya membutuhkan perbaikan tidak dengan pembongkaran total.

Wakil Ketua Hippama, Agus Priambodo, menegaskan apapun yang terjadi, salah satu paguyuban pedagang ini tetap berpendirian teguh dengan menolak revitalisasi Pasar Besar Malang ini.

“Kami tetap akan menolak pembangunan secara total. Bagaimana pun, pedagang yang tergabung dalam Hippama tetap menolak,” kata Agus, Kamis (10/7/2025).

Ia turut menyampaikan rasa keprihatinannya terkait insiden runtuhnya tembok di lantai tiga Pasar Besar beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa insiden tersebut bukan karena kerusakan konstruksi utama, melainkan akibat kurangnya perawatan dan pengawasan dari instansi terkait.

“Yang runtuh itu tembok pot, bukan kontruksi bangunan. Tembok pot itu diisi pohon yang tumbuh, harusnya dipotong. Sehingga akarnya tidak tumbuh di dalam pot itu sendiri yang menyebabkan rapuhnya tembok itu,” terang Agus.

Ia menyebut bahwa berdasarkan hasil uji forensik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya beberapa tahun lalu, bangunan Pasar Besar masih layak digunakan.

“Kami tetap berpegang teguh dengan hasil riset ITS yang menunjukkan bahwa bangunan ini masih layak. Maka dari itu kami tetap menolak untuk pembangunan total,” tegasnya.

Selain alasan teknis, kondisi ekonomi nasional yang belum stabil juga menjadi pertimbangan Hippama untuk menolak revitalisasi. Agus menilai belum ada kejelasan terkait pendanaan dari pusat.

“Dana dari pusat pun juga gak jelas, kan karena ini ekonomi Indonesia kayak gini,” ujarnya.

Meski menolak pembongkaran total, Agus dan para pedagang tetap membuka diri jika Pemerintah Kota (Pemkot) Malang ingin melakukan perbaikan terbatas. Mereka bahkan siap membantu agar proses perbaikan berjalan lancar.

“Kalau bisa kita membantu Pak Wali meneruskan rencananya. Kita bersama-sama berdekatan untuk memperbaiki bareng-bareng,” tuturnya.

Ia juga mengkritisi manajemen dan pengelolaan Pasar Besar yang dinilainya tidak maksimal. Menurutnya, buruknya pengelolaan fasilitas umum menjadi penyebab utama pasar terlihat kumuh dan sepi.

“Bagus tidaknya pasar kalau manajemennya enggak bagus ya, ya pasar enggak bagus pengelolaannya. Yang penting itu manajemen, pengelolaan pasar ini gimana,” jelasnya.

Agus optimistis Pasar Besar akan kembali ramai jika dikelola dengan baik tanpa kepentingan tertentu. Ia pun berharap komunikasi antara Pemkot dan pedagang bisa lebih diperkuat demi menciptakan pasar yang aman dan nyaman.

“Tapi kalau manajemennya itu yang dibenerin dulu, baru ini diperbaiki jadinya pasti bagus. Intinya memang manajemen pengelolaan juga harus baik,” pungkasnya. (yog)

Exit mobile version