Kota Malang, blok-a.com – Rencana revitalisasi Pasar Besar Malang hampir dipastikan batal direalisasikan pada tahun 2025. Kepastian itu disampaikan langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, usai kunjungannya ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU) beberapa waktu lalu.
Menanggapi hal tersebut, Himpunan Pedagang Pasar Besar Malang (Hippama) yang sejak awal menolak rencana revitalisasi menyampaikan rasa syukur atas pembatalan tersebut.
Wakil Ketua Hippama, Agus Priambodo, mengatakan pihaknya akan tetap menagih janji politik Wahyu Hidayat saat kampanye, yang menyebutkan bahwa Pasar Besar akan diperbaiki tanpa dibongkar total.
“Kita tetap ya minta perbaikan, itu sesuai dengan janjinya Pak Wali dulu. Nah kita, ya itu kan Pak Wali dulu ingin memperbaiki Pasar Besar,” kata Agus, Kamis (10/7/2025).
Ia menegaskan bahwa Hippama siap membantu Pemerintah Kota Malang dalam proses koordinasi dengan para pedagang jika perbaikan dilakukan. Agus meyakini kondisi pasar akan lebih ramai apabila segera dilakukan pembenahan.
“Kalau bisa kita membantu Pak Wali meneruskan rencananya. Kemudian semula janji politik itu kan juga, itu kita bisa mewujudkan janjinya Pak Wali itu. Kita bersama-sama berdekatan untuk memperbaiki bareng-bareng,” ujarnya.
Menurut Agus, alasan utama penolakan terhadap pembongkaran total adalah karena struktur bangunan Pasar Besar dinilai masih layak. Meski begitu, ia tak menampik bahwa perbaikan dari Pemkot tetap dibutuhkan.
“Mulai 2016 kita dibiarkan dengan kondisi begini. Justru kita yang peduli memperbaiki secara swadaya dan mandiri,” tuturnya.
Agus juga menyoroti minimnya perawatan dan pengawasan dari pengelola pasar, yang dinilai menjadi salah satu penyebab insiden runtuhnya tembok pot di lantai tiga beberapa waktu lalu.
“Itu kan potnya ada akarnya lalu tumbuh menyebar. Bukan konstruksinya yang runtuh,” jelasnya.
Di sisi lain, Agus menyayangkan sikap Pemkot Malang yang terkesan mengabaikan keberadaan Hippama pasca penolakan revitalisasi. Ia menyebut, kelompoknya merupakan representasi mayoritas pedagang di Pasar Besar, namun jarang dilibatkan dalam proses komunikasi.
“Dari Hippama tidak pernah dipanggil. Kalau kebetulan yang dipanggil itu kan ya ada kelompok yang lain. Dan ya bisa dilihat tidak 100 persen atau tidak banyak mewakili pedagang. Justru yang banyak mewakili pedagang itu tidak pernah diajak,” tutupnya. (yog)




