Pakar Tata Kota Sebut Kurangnya Fasilitas Pejalan Kaki Bikin Jalanan Padat Kendaraan

Pejalan kaki di Kota Malang (Satria Akbar Sigit/Blok-a.com)

Kota Malang, blok-a.com – Kota Malang sebagai kota yang sejuk sebenarnya adalah sebuah kota yang enak untuk pejalan kaki.

Namun, dengan begitu banyak distraksi di jalur pejalan kaki, seperti kudeta trotoar oleh PKL dan parkir dan trotoar yang terbengkalai di beberapa titik, membuat masyarakat enggan berjalan kaki.

Fauzul Rizal Sutikno, pakar tata kota dari Universitas Brawijaya mengatakan hal ini adalah salah satu penyumbang kepadatan kendaraan di Kota Malang. Karena fasilitas jalan kaki yang masih kurang, akhirnya banyak warga yang memilih untuk menggunakan kendaraan.

Padahal masyarakat Kota Malang tidak bisa dibilang malas untuk berjalan kaki. Terbukti masih sering dijumpai mahasiswa yang berangkat-pulang kuliah atau berburu makanan dengan berjalan kaki.

“Ini bukan masalah gaya-gayaan. Banyak orang tidak ingin repot nyicil motor, tapi selama ini tidak ada tempat untuk jalan kaki. Indonesia itu salah satu negara paling malas jalan kaki, bukan karena kita malas, tapi karena memang sulit untuk jalan,” tutur sosok yang akrab disapa Rizal tersebut.

Mengambil contoh Jalan Soekarno-Hatta, Rizal menggambarkan situasi fasilitas pejalan kaki yang masih jauh dari ideal di kawasan tersebut. Kondisi trotoar yang dipenuhi distraksi disebut memengaruhi minat berjalan kaki.

“Ambil contoh saja Jalan Soekarno-Hatta itu masih masuk kategori buruk, lho. Jalannya tidak rata dan banyak halangan, trotoarnya sering hilang. Padahal kota ini enak untuk berjalan kaki, tetapi fasilitas jalur pedestrian yang baik, kita masih terbatas di kawasan tertentu, seperti Kayutangan dan Jalan Ijen,” tuturnya.

Rizal juga menceritakan pengalamannya sendiri saat berjalan kaki di Kota Malang untuk berangkat bekerja di Universitas Brawijaya.

“Saya sering jalan kaki dari rumah saya di wilayah jalan bunga-bungaan ke kampus. Ada trotoar di beberapa bagian, tapi tiba-tiba hilang. Lalu nyebrang ke UB itu juga menantang, karena ada tiang internet, banyak baliho seperti saat kampanye kemarin, dan kendaraan yang melaju cepat,” ceritanya.

Oleh karena itu, Rizal menilai masyarakat Kota Malang, terutama yang tinggal di wilayah dengan fasilitas pejalan kaki yang kurang. Masih banyak yang memilih untuk berangkat dan pulang dengan menggunakan kendaraan, yang mayoritas masih didominasi kendaraan pribadi.

“Sayangnya, kota ini enak sehingga kekurangan fasilitas pejalan kaki jadi terekspos. Kalau kota-kota yang panas, kekurangan ini tidak terlalu terlihat. Mau jalan di kota yang penghargaan kepada pejalan kakinya kecil? Ini yang harus diperbaiki,” pungkasnya. (art)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com