Pahit-Manis Tim Pemulasaraan Korban Covid-19, Pernah Dilempari Sampah Saat Kubur Jenazah

Tim pemulasaraan jenazah covid-19 di Kota Malang usai mengubur korban korona
Tim pemulasaraan jenazah covid-19 di Kota Malang usai mengubur korban korona - Foto: Rifky Pramadani

KOTA MALANG – Covid-19 belum juga berakhir, bahkan hingga awal tahun 2021. Dibalik keganasannya, tak hanya korban maupun keluarga korban yang menyimpan sejuta cerita. Namun tim pemulasaraan jenazah covid-19 pun punya banyak kisah perjuangan yang haru.

Rizvan Nanda Priyanto misalnya, mahasiswa ini telah bergabung dengan tim pemulasaraan jenazah Covid-19 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang sejak April 2020. Selama hampir satu tahun, ia mengaku telah membantu pemakaman ratusan jenazah suspek maupun terkonfirmasi positif Covid-19.

Dalam kurun waktu itu, telah banyak yang ia alami. Ia menyaksikan peti jenazah suspek maupun terkonfirmasi positif Covid-19. Ia bisa melihat keluarga jenazah yang sedang berduka. Ia bisa melihat dalam jarak yang amat dekat saat peti jenazah masuk ke liang lahat.

Dan, ia tentu saja bisa melihat kematian berjarak hanya beberapa langkah dari hadapannya.

“Mulai dari awal April (tahun 2020). Sejak ada jenazah pertama. Dulu UPT pemakaman belum ikut. Cuma BPBD dan PSC Dinas Kesehatan, dibantu warga. Kita bawa APD lebih buat warga yang membantu,” kata Rizvan.

“Kalau dihitung dari April, mungkin sekitaran ratusan orang” ungkap Rizvan.

Semula, ia khawatir akan pekerjaannya yang berisiko dan ia paham resiko apa yang ia hadapi. Tetapi perlahan ia yakin, kekhawatiran itu berganti menjadi perasaan hormat karena bisa membantu penanganan pandemi. Kuncinya adalah menjaga diri dan kebersihan. Dan ia bersyukur tidak terpapar Covid-19.

“Sebelum dan sesudah pemakaman selalu disemprot. Wajib itu. Dari beberapa tes rapid syukur juga hasilnya negatif,” ujar Rizvan, Sabtu (9/1).

Rizvan mengatakan pernah agak was-was saat koordinator lapangan Pemakaman dan Penyemprotan Disinfektan dan Alkohol BPBD Kota Malang, Cornellia Selvyana Ayoe terpapar Covid-19. Ia bersyukur pimpinannya baik-baik saja dan bisa sembuh.

“Bukan kondisi yang buruk. Syukur saya yang mendampingi tiap hari tidak terpapar,” imbuhnya.

Banyak hal, kata Rizvan, membuatnya lelah. Menunggu jenazah tiba, misalnya. Tetapi itu tidak seperti perasaan saat timnya memperoleh penolakan dari warga sekitar pemakaman. Maupun keluarga jenazah yang menolak anggota keluarganya dimakamkan dengan protokol Covid-19.

Ia menyayangkan tindakan abai semacam itu. Sebab ia khawatir, Covid-19 justru malah akan menyebar di keluarga jenazah. Ia, tentu saja, tidak ingin itu terjadi.

“Kadang jenazah sempat diambil secara paksa. Bahkan, kami pernah dilempari sampah oleh warga,” ungkap Rizvan mahasiswa semester dua di Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang itu.

“Lama-lama saya percaya, Covid-19 bukan aib. Kita bisa menjaga diri dari penyakit itu dengan mematuhi protokol kesehatan,” imbuhnya.

Pemuda 19 tahun itu menjadi relawan sambil melanjutkan kuliahnya yang telah menginjak semester ke-dua. Tetapi, ia bisa mengatur agar jadwal kuliahnya tidak berbarengan dengan kegiatannya sebagai relawan. Apalagi, jelas Rizvan, kebanyakan jadwal kuliahnya pagi atau siang. Sehingga ia bisa menyempatkan diri mengikuti kelas.

Meski uang lelah yang ia terima dari kegiatannya sebagai relawan tidak banyak, tetapi cukup untuk membantu biaya kuliahnya. Sebagian besar uang kuliahnya berasal dari honor itu.

“Kurangnya nggak banyak sih. Tapi bisa dicukupkan. Hitung-hitung bantu orang tua,” ucapnya.

Rizvan percaya apa yang ia lakoni, memakamkan jenazah sesuai dengan protokol Covid-19, adalah sebuah keharusan. Itu dilakukan agar tidak sembarang orang memakamkan jenazah suspek maupun terkonfirmasi positif Covid-19. Pemakaman dengan protokol Covid-19 dilakukan agar tidak lebih banyak orang terpapar.

“Untuk masyarakat, kami ini tim pemakaman. Soal jenazah itu positif Covid-19 atau tidak itu wewenang Rumah Sakit. Kami hanya menerima perintah bahwa ini harus dimakamkan secara protokol pemakaman. Dengan mematuhi protokol itu bisa menyelamatkan semua,” ujarnya memungkasi wawancara.

 

Exit mobile version