Kabupaten Malang, blok-a.com – Joni, warga Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, hanya bisa pasrah menatap sisa-sisa material rumah dan kandang ayam miliknya yang hancur akibat banjir pada Sabtu (30/12/2024) lalu.
Banjir terjadi setelah Sungai Kedungwaru meluap usai hujan deras mengguyur sejak Kamis (28/12/2024) dini hari.
Rumah yang baru selesai dibangun 15 hari lalu itu hancur terbawa arus deras.
Di tengah hiruk pikuk penyaluran bantuan kebencanaan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Selasa (3/12/2024) siang, wajah Joni masih nampak lesu.
Hingga detik ini, ayah satu anak itu masih tak menyangka bencana tersebut menimpa keluarga kecilnya.
“Bangunan ini baru saja jadi mbak, baru sekitar 15 hari terus diterjang banjir, ya habis sudah jadi seperti ini konsidinya. Nabungnya lima tahun, habisnya semalam,” kata Joni kepada blok-a.com, Selasa (3/12/2024).
Selain rumah, bisnis ayam pedaging milik pria berusia 33 tahun itu juga luluh lantak.
Hampir seluruh barang di dapur dan kandang ayam miliknya, seperti blower kandang, tempat pakan, dan perabot penting lainnya, hilang tersapu banjir.
“Peralatan dapur dan isi kandang habis, untungnya sepeda motor masih berhasil diselamatkan. Terus barang elektronik, seperti kulkas juga selamat, tapi waktu itu mengapung jadi ya sepertinya rusak,” ungkapnya lirih.
Joni memperkirakan total kerugiannya mencapai lebih dari Rp350 juta. Beruntungnya, kandang yang berisi 8 ribu ayam baru saja dipanen, sehingga kerugian yang ia tanggung tidak lebih besar dari sekarang.
“Alhamdulillahnya lagi saya baru saja panen. Jadi kalau sekarang ditotal kerugian ya lebih dari Rp350 juta. Soalnya dari awal saya bangunnya kandang open, kurang lebih sekitar Rp100 juta lebih. Setelah itu update ke kandang sekarang ini harganya sekitar Rp150 sampi Rp200 juta,” tambahnya.
Selama enam tahun tinggal di rumah yang bersebelahan dengan Sungai Kedungwaru, Joni mengaku banjir kali ini adalah yang terbesar yang pernah ia alami.
“Memang di sini sering banjir, tapi tidak sebesar kemarin. Ini paling besar yang pernah saya alami selama tinggal di sini,” ucapnya.
Atas bencana yang menimpa, Joni tidak berharap banyak kepada siapapun termasuk pemerintah daerah.
Trauma akibat banjir ini membuat Joni berencana pindah rumah dan memindahkan kandangnya ke lokasi yang lebih aman.
“Kalau menyebutkan nominal tidak enak, karena takut dibilang aji mumpung. Jadi monggo dilihat saja karena kondisinya sepeerti ini, mungkin yang lebih ahli lebih tahu,” tambahnya.
“Karena kalau saya pribadi rumah tidak mungkin di tempati lagi, sudah trauma kalau lihat air besar. Rencananya kandang juga akan pindah, paling tidak geser sedikit yang agak jauh dari sungai,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, bencana banjir dan tanah longsor terjadi di wilayah Kabupaten Malang selatan.
Setidaknya ada lima kecamatan yang terendam banjir akibat hujan yang berekepanjangan, sejak Kamis (28/11) dini hari hingga Sabtu (1/12) lalu.
Lima kecamatan tersebut di antaranya Kalipare, Donomulyo, Sumbermanjing Wetan, Pagak dan Bantur. Ratusan rumah terendam, beberapa korban terdampak lainnya bahkan harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. (ptu/lio)









