KOTA BATU – Wilayah Kota Batudidominasi topografi perbukitan berkontur miring yang rawan longsor. Upaya mitigasi pun disiapkan BPBD Kota Batu dengan memasang alat deteksi dini tanah longsor. Pengadaan alat sejumlah 11 unit itu akan dipasang di titik-titik rawan longsor
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho mengatakan pengadaan 11 unit deteksi longsor dialokasikan pada tahun anggaran 2021. Total anggaran untuk pengadaan alat tersebut mencapai Rp 1,1 miliar.
“Jumlahnya ada 11 alat yang nantinya akan kami pasang di wilayah yang rawan longsor, yakni lokasi pada kelerengan yang rawan bencana dan dibawahnya lereng terdapat permukiman dan kerapatan vegetasi mulai berkurang atau jarang,’’ ujar Gatot Noegroho, Kamis (8/10).
Alat deteksi ini juga pernah dianggarkan di tahun 2017 dengan dua unit yang telah dipasang. Kedua unit ini dipasang di Dusun Kekep Desa Tulungrejo dan Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji.
Sementara, sisanya yang 9 unit akan ditempatkan di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji dan Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. Semula rencana pembelian alat dijadwalkan pada tahun 2020 ini. Namun karena kebijakan realokasi anggaran, membuat rencana itu tertunda hingga 2021.
Gatot menjelaskan cara kerja pendeteksian longsor tersebut. Tanda-tanda terjadinya longsor akan terbaca melalui kabel baja ekstensometer ketika adanya pergerakan tanah. Kabel baja akan tertarik dan mentransmisikan sinyal ke alat warning system.
“Sehingga akan membunyikan alarm, pertanda adanya pergeseran tanah atau gerakan tanah. Jadi kami bisa langsung melacak lokasi mana yang akan terjadi longsor,” terang Gatot.
Tak hanya memasang alat, BPBD berkolaborasi dengan pihak relawan desa dan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) desa dalam rangka memberikan informasi dini untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terutama pada daerah rawan longsor.










Balas