Kota Malang, blok-A.com – Kawasan perkopian Sudimoro, merupakan tempat nongkrongnya anak muda hingga bersantai menikmati kopi.
Dari petang hingga malam, kawasan tersebut terlihat ramai dan seringkali memadati jalan kecil di depan itu. Mulai kalangan muda hingga tua, kawasan itu tak pernah henti mendatangkan pengunjung.
Setelah bangkit dari Pandemi, kawasan tersebut mulai ramai kembali. Hal itu terbukti dari salah satu owner perkopian disana. Ia adalah Tendy.
Owner EnkaReborn, Tendy (40) menuturkan bahwa dua tahun yang lalu merupakan masa yang berat untuk dijalanin. Sebab, pandemi menurunkan omset saat itu.
“Masa-masa pandemi itu sulit ya, untuk bertahan aja syukur alhamdulillah. Dari sembilan karyawan, jadi sisa tiga karyawan saja,” ucapnya pada Kamis (01/09/2022).
“Alhamdulillah akhir-akhir ini, bisa mulai terasa normal kembali ya. Sekarang normal saya punya 11 karyawan mas,” ucapnya.
Kawasan tersebut menjadi peluang para owner disana, mencari keuntungan untuk bertahan hidup. Namun, siapa sangka jika dulunya kawasan itu, hanya dipenuhi persawahan dan kuburan.
Sejarah Kawasan Perkopian Sudimoro

Pengamat Budaya, Agung Buana menuturkan bahwa kawasan perkopian Sudimoro itu belum ada waktu beberapa tahun lalu. Area tersebut hanya diisi dengan sawah dan kuburan.
“Kawasan Sudimoro itu baru dibuka. Tahun 2015 mulai dibangun jalan itu, hingga menuju SMP Sabilillah. Dulunya masih persawahan dan kuburan,” ucapnya.
Setelah dibukanya jalan tersebut, ketika malam hari pun masih sepi. Bingung mencari tempat nongkrong, kawasan perkopian tersebut dibuka dengan iniasi anak muda atau entrepreneur disana.
“Berangkat nya itu dari anak muda yang bingung mau nongkrong dimana, dapat lokasi di kawasan Sudimoro, pas juga booming film Filosofi Kopi,” tutur
“Melihat sejumlah peluang, anak muda mulai menyewa tanah disana ,dan membangun kawasan perkopian. Tahun 2017 ramai dan berkembang,” tambahnya.
Agung berpendapat bahwa kawasan perkopian Sudimoro, menjadikan inspirasi dari tempat lain untuk membuka kawasan perkopian yang sama seperti di Jalan Raya Dermo, ataupun di Bukit Joyo Grand.
Puncaknya di 2019, mahasiswa Kota Malang seakan memiliki habbit baru dalam mengerjakan tugas. Agung mengatakan bahwa mahasiswa memiliki sarana perkopian, untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
“Jadi semenjak adanya kawasan perkopian itu, mahasiswa jadi bisa mengerjakan skripsi, tugas di kopian. Tidak sumpek di kos-kosan saja,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa pun tidak perlu risau untuk mencari makanan berat ataupun ringan. Karena di kawasan perkopian Sudimoro, sudah menyediakan menu-menu yang cocok bagi mahasiswa.
“Dari yang jepang sampai makanan jawa, semua ada kan mas. Ada live music juga tiap malam, mahasiswa tidak perlu risau dan bisa sambil mengerjakan tugas,” imbuhnya.
Terinspirasi Film Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi karya sutradara Angga Dwimas Sasongko diangkat dari cerita pendek berjudul serupa karya Dewi Dee Lestari. Film ini dibintangi oleh Chicco Jerikho, Rio Dewanto, dan Julie Estelle.
Berkat skenario yang ditulis oleh Jenny Jusuf, film ini mampu memenangkan penghargaan Festival Film Bandung untuk kategori Penulis Skenario Terpuji. Selain itu, Filosofi Kopi berhasil masuk beberapa nominasi dan penghargaan lainnya.
Penggarapan film yang diangkat dari novel dan cerpen memang cukup berbeda. Jika novel harus dipadatkan, maka cerpen harus dipanjangkan untuk diterjemahkan dalam bentuk film.
Bercerita tentang perjalanan Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) yang memutuskan menjual kedai mereka dan berkeliling Indonesia demi membagikan kopi terbaik. Petualangan keduanya bersama mobil Kombi Filosofi Kopi pun menemui jalan buntu.
Film ini merupakan inspirasi anak muda di Kota Malang, untuk membangun kawasan perkopian di Sudimoro.
(mg1/rco)










Balas