KOTA BATU – Pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 memang membuat masyarakat terutama para orangtua kelimpungan. Bagaimana tidak, di tengah situasi yang tidak menentu, mereka harus menyisihkan uang untuk membeli kuota internet agar pembelajaran tetap bisa diikuti. Namun, tak banyak wali murid yang bisa membelikan kuota untuk anaknya. Alhasil, sang anak pun harus berusaha sendiri.
Seperti yang dilakukan bocah siswa kelas 5 SD di Kota Batu bernama Mohammad Kerel Kiano Alkibi ini. Siswa MI Alam Luqman Al Hakim Kota Batu ini rela berjualan kue dan nasi kotak buatan ibunya di Balaikota Among Tani untuk membeli kuota internet. Bocah yang hidup bertiga dengan ibu dan saudara kandungnya ini tinggal di kontrakan jalan Lahor, Kelurahan Ngaglik, Kota Batu.

Dalam sehariannya Kiano harus berjualan demi membantu ibunya membeli kuota internet untuk sekolah daring. Tak hanya untuk kebutuhan sekolah, hasil jualannya juga diberikan ibunya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Ya jualan karena kan sekolah daring, dan saya butuh kuota internet juga untuk daring makanya bantu ibu jualan. Uangnya saya berikan ibu buat bayar kontrakan juga,” terang Kiano kepada Blok-A, Rabu (2/9).
Setiap harinya Kiano menjajakan dagangan dengan duduk di lorong perkantoran pemerintah Kota Batu. Saat jam makan siang menjadi momen yang dinantikan Kiano, pasalnya ASN akan banyak yang keluar untuk makan siang.
“Alhamdulillah kalau siang kadang ramai, biasanya waktu makan siang, kan bapak dan ibu yang kerja disini pada keluar makan siang,” imbuhnya.
Kiano sendiri berjualan di Balaikota Among Tani sejak pagi hingga siang hari. Setelahnya ia akan pulang untuk mengerjakan tugas dari sekolah melalui handphonenya. Bahkan dalam satu keluarga tersebut hanya memiliki satu handphone.
“Gantian sama kakak handphonenya. Karena memang punya satu, jadi kadang kakak pagi saya siang hari ngerjain tugasnya,” kata Kiano.
Kiano juga biasanya mulai berjualan belasan nasi kuning dengan harga Rp 10 ribu. Sedangkan kakaknya bernama Nadia Yusfita siswi SMP Negeri 2 Batu juga berjualan tempura di depan rumah.
“Dalam sebulan harus membeli kuota internet sejumlah Rp 70 ribu untuk belajar daring, karena kan memang gantian handphonenya,” pungkasnya.










Balas