Kota Malang, blok-a.com – Malang bersiap-siap mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan pada Rabu (14/10/2026) besok. Fenomena kulminasi matahari ini diperkirakan terjadi di Kota Malang dan Kabupaten Malang pada pukul 11.15 WIB.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul, menjelaskan fenomena Hari Tanpa Bayangan terjadi secara bergantian di sejumlah wilayah Jawa Timur sejak pertengahan Oktober 2026. Waktu terjadinya fenomena ini berbeda-beda, bergantung pada letak geografis masing-masing wilayah.
“Fenomena Hari Tanpa Bayangan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur sejak pertengahan Oktober. Untuk wilayah Kota Malang dan Kabupaten Malang, bakal terjadi besok pada pukul 11.15 WIB,” jelasnya, Selasa (13/10/2026).
Linda menerangkan, kulminasi matahari merupakan fenomena astronomis ketika matahari berada pada posisi tertinggi dalam lintasan hariannya. Pada saat itu, sinar matahari datang hampir tegak lurus terhadap permukaan bumi sehingga bayangan benda menjadi sangat pendek dan seolah-olah menghilang.
“Sehingga, kulminasi ini kerap disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan karena posisi matahari tepat berada di atas kepala atau di posisi tertinggi,” tambahnya.
Menurut Linda, fenomena tersebut tidak menimbulkan dampak bahaya secara langsung. Kulminasi matahari juga tidak serta-merta menyebabkan kenaikan suhu udara secara drastis. Sebab, suhu harian turut dipengaruhi oleh tutupan awan dan dinamika atmosfer.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau mewaspadai kondisi terik saat siang hari. Paparan panas ketika beraktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas.
Linda menambahkan, fenomena Hari Tanpa Bayangan berlangsung singkat, hanya selama beberapa menit. Fenomena ini juga lumrah terjadi di Indonesia karena berkaitan dengan pergerakan posisi semu matahari sepanjang tahun.
Ia menegaskan, kulminasi matahari bukan merupakan pertanda langsung terjadinya peralihan musim atau pancaroba.
“Kami juga tegaskan, fenomena kulminasi matahari ini bukan merupakan pertanda langsung terjadinya peralihan musim (pancaroba). Peralihan musim ditentukan berdasarkan dinamika atmosfer dan perkembangan curah hujan di suatu wilayah, bukan semata-mata berdasarkan posisi matahari,” tandasnya.









