Kualitas Panen Tak Maksimal, Petani Tebu Kabupaten Malang Keluhkan Harga Pupuk

Caption : Perkebunan tebu di wilayah Karanglo Kabupaten Malang siap panen di tahun 2023 (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)
Caption : Perkebunan tebu di wilayah Karanglo Kabupaten Malang siap panen di tahun 2023 (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, Blok-a.com – Kualitas hasil panen tebu di Kabupaten Malang tak buahkan hasil maksimal. Petani keluhkan biaya perawatan serta harga pupuk yang relatif tinggi.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Kholida Masruroh mengatakan, hingga kini mayoritas hasil panen tebu petani di Kabupaten Malang masih didominasi dengan kualitas tingkat menengah.

Terdapat tiga kategori dalam hal standar yang ditentukan pada mutu tebu berdasarkan ketentuan MBS (Manis, Bersih, Segar). Yakni MBS kelas Bintang, MBS Plus, dan MBS Biasa.

“Saat ini hasil yang didapat dari petani masih di grade MBS Plus tertinggi. Jadi untuk yang benar benar bersih dan rendemen tinggi di MBS Bintang sangat jarang,” ungkap Kholida, saat ditemui belum lama ini.

Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satu hal kerap kali dikeluhkan petani yakni harga pupuk yang tak lagi mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Perlu diketahui, sejak 2022 lalu, pemerintah telah memangkas beberapa komoditi tanaman yang penerima pupuk subsidi. Salah satunya yakni komoditi tebu.

“Memang masalah yang disampaikan petani ya pasti pupuk, harga pupuk non subsidi tinggi,” tuturnya.

Menjawab permasalahan tersebut, lanjut Kholida, DTPHP tengah memprogramkan bantuan pupuk nonsubsidi terhadap petani. Namun hal tersebut juga dirasa belum maksimal.

Sementara itu, untuk menekan biaya perawatan, DTPHP menyarankan agar petani melakukan perawatan yang tepat dan mencegah penerapan panen berulang dalam waktu yang lama, yakni dengan bongkar ratun.

Selanjutnya, disarankan untuk melakukan bingkar ratun. DTPHP juga memprogramkan rawat ratun untuk memberikan pendampingan perawatan kebun petani.

“Meski diakui jika bingkar ratun lebih sering memakan biaya produksi. Maka kami upayakan bantuan bibit dan pupuk untuk meredam. Namun jika itu dilakukan dengan tepat, hasil panen akan berkualitas tinggi,” imbuhnya.

Disinggung terkait presentase tebu dengan kualitas tinggi atau kategori MBE Bintang, kata Kholida, Kabupaten Malang hanya dapat memproduksi tidak sampai dari 15 persen tebu dengan kualitas tinggi.

“Masih cukup rendah, sekitar tidak sampai 15 persen dari sekali masa giling tebu,” pungkasnya.

(ptu/bob)

Exit mobile version